Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Pauline Suharno mengungkapkan tren perjalanan wisata masyarakat Indonesia kini bergeser ke liburan dalam kelompok kecil.
Salah satu yang menonjol adalah liburan multigenerasi atau multi-generation trip.
>>> Ahli Virologi: Virus Corona Tak Lagi Jadi Ancaman Serius
Menurut Pauline, masyarakat lebih memilih bepergian bersama teman dekat atau keluarga lintas generasi. Perjalanan bus besar kini lebih banyak untuk study tour atau perusahaan.
Fenomena Liburan Multigenerasi
"Masyarakat sekarang lebih suka bepergian dalam kelompok kecil, bukan lagi berbus-bus.
Banyak sekali multi-generation traveler, jadi orang tua, kakek-nenek, anak, dan cucu karena mereka lebih menghargai waktu bersama," kata Pauline di Jakarta, Senin.
Tren ini sudah terjadi sejak pandemi COVID-19. Pembiayaan perjalanan biasanya didukung oleh orang tua yang mapan secara finansial.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Gaya perjalanan pun menjadi lebih santai karena harus menyesuaikan ritme setiap generasi.
"Yang tua tidak bisa jalan sampai malam, anak-anak mungkin bangun siang.
>>> Arifah: Penanganan Eksploitasi Seksual Anak Harus Lindungi Korban
Liburan bukan lagi seperti dulu, bangun jam 6, sarapan jam 7, keluar hotel jam 8, buru-buru balik setelah makan malam.
Sekarang lebih ke experiencing sendiri," tutur Pauline.
Destinasi dan Peran Agen Perjalanan
Wisatawan saat ini cenderung memilih destinasi dengan akses transportasi murah, nyaman, dan mudah dijangkau transportasi publik. Perkembangan teknologi dan kemudahan transportasi membuat wisatawan semakin mandiri.
Pauline mencontohkan, saat ke Singapura atau Malaysia, wisatawan Indonesia sudah terbantu transportasi publik, aplikasi online, dan navigasi digital seperti Google Maps.
Akibatnya, penggunaan jasa agen perjalanan di sejumlah destinasi berkurang.
Namun, agen perjalanan masih memiliki peluang menjual paket wisata ke destinasi dengan kendala bahasa dan sistem pembayaran berbeda.
>>> Pemkab Bekasi Lepas 542 Calon Haji Kloter Terakhir
"Contoh ke China, problem bahasa dan cara bayar. Itu pasar besar buat travel agent Indonesia," kata Pauline.