PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) mencatat portofolio pembiayaan griya mencapai sekitar Rp60 triliun hingga Maret 2026.
Pencapaian ini didorong oleh membaiknya daya beli masyarakat dan meningkatnya kebutuhan hunian nasional.
Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan pembiayaan griya menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan pembiayaan konsumer.
"Segmen griya merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan pembiayaan konsumer BSI.
Kami melihat kebutuhan hunian masyarakat masih sangat besar, khususnya untuk pembelian rumah pertama," ujar Erwan dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ini sejalan dengan membaiknya daya beli dan optimisme terhadap kondisi ekonomi nasional.
Pembiayaan griya BSI didukung oleh berbagai keunggulan produk kompetitif, seperti angsuran tetap hingga akhir tenor, fasilitas free appraisal, dan special price pada developer rekanan terpilih.
Selain itu, terdapat pula hadiah BSI Emas serta berbagai program promo lainnya.
Perseroan juga terus mendukung program kepemilikan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Hingga Maret 2026, portofolio FLPP BSI telah mencapai lebih dari Rp5,7 triliun.
Tren Positif Pembiayaan Rumah Pertama
BSI mencatat tren booking pembiayaan griya masih menunjukkan pertumbuhan yang baik, terutama untuk pembelian rumah pertama dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp1 miliar.
Permintaan pembiayaan juga berasal dari kebutuhan take over, renovasi rumah, serta kebutuhan hunian lainnya.
Saat ini, BSI berada pada posisi enam besar bank penyalur pembiayaan perumahan nasional dengan kualitas pembiayaan yang sehat.
Perseroan optimistis sektor perumahan masih memiliki ruang pertumbuhan besar, seiring dukungan kebijakan pemerintah melalui Program 3 Juta Rumah dan prospek konsumsi domestik yang membaik.
Hingga Maret 2026, total pembiayaan BSI mencapai Rp329 triliun.
Dari jumlah tersebut, segmen konsumer dan emas menjadi penyumbang terbesar dengan total pembiayaan Rp184,27 triliun, tumbuh 17,59 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu diiringi kualitas pembiayaan yang terjaga, dengan rasio non-performing financing (NPF) segmen konsumer di bawah 1,5 persen.
Hal ini mencerminkan prinsip kehati-hatian BSI dalam menjaga kualitas aset sekaligus mendorong ekspansi bisnis secara berkelanjutan.
Pertumbuhan pembiayaan griya BSI juga didorong oleh berbagai keunggulan produk yang kompetitif, antara lain angsuran tetap hingga akhir tenor, fasilitas free appraisal, special price pada developer rekanan terpilih, hadiah BSI Emas, serta berbagai program promo lainnya.
Perseroan mencatat tren booking pembiayaan griya masih menunjukkan pertumbuhan yang baik, terutama untuk pembelian rumah pertama dengan kisaran harga Rp500 juta hingga Rp1 miliar.