Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza mengumumkan angka terbaru korban agresi Israel. Jumlah korban tewas telah mencapai 72.769 orang sejak 7 Oktober 2023.
Selain itu, sebanyak 172.704 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Data ini disampaikan oleh sumber medis setempat pada Senin, 18 Mei 2026.
>>> Kuasa Hukum Keluarga Kacab Bank Dorong Penerapan Pasal Pembunuhan Berencana
Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di Gaza menerima enam jenazah dan 40 korban luka. Angka ini menambah panjang daftar korban yang terus bertambah setiap hari.
Korban Sejak Gencatan Senjata
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 11 Oktober, jumlah korban tewas bertambah menjadi 877 orang. Sementara itu, korban luka meningkat menjadi 2.602 orang.
Selain itu, sebanyak 776 jenazah lainnya telah ditemukan dari reruntuhan. Proses pencarian masih terus dilakukan oleh tim penyelamat.
Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Tim ambulans dan penyelamat belum dapat menjangkau semua lokasi karena keterbatasan akses.
Kondisi ini menunjukkan masih banyaknya korban yang belum tertangani. Infrastruktur kesehatan di Gaza semakin tertekan dengan terus bertambahnya jumlah korban.
>>> Chery Q, Mobil Listrik Rp200 Jutaan, Buka Pemesanan Awal
Serangan Israel yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menyebabkan kerusakan besar di Jalur Gaza. Ribuan bangunan hancur dan jutaan warga mengungsi.
Komunitas internasional terus mendesak diakhirinya kekerasan. Namun, hingga saat ini gencatan senjata masih rapuh dan sering dilanggar.
Data korban yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza menjadi acuan utama bagi berbagai lembaga kemanusiaan. Angka ini terus diperbarui setiap hari sesuai laporan dari rumah sakit.
Para petugas medis bekerja di bawah tekanan berat. Mereka harus merawat ribuan korban luka dengan sumber daya yang sangat terbatas.
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Bantuan internasional mulai berdatangan, tetapi jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.
>>> Polres Jayapura Tetapkan 15 Tersangka Kerusuhan Stadion Lukmen
Konflik ini telah menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Palestina. Dunia menanti langkah nyata untuk menghentikan pertumpahan darah.