Benteng Amsterdam berdiri kokoh di Negeri Hila, Maluku, sebagai saksi bisu kejayaan rempah pada masa lampau.
Bangunan bersejarah ini menjadi pengingat akan perdagangan pala dan cengkih yang pernah menguasai dunia.
>>> DPD RI Soroti Efektivitas Anggaran Pendidikan di Papua Barat
Benteng ini terletak di pesisir Pulau Ambon, tepatnya di Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Lokasinya yang strategis menjadikannya pusat pengawasan dan perdagangan rempah oleh VOC pada abad ke-17.
Sejarah dan Arsitektur Benteng Amsterdam
Benteng Amsterdam dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1620-an. Tujuannya adalah untuk mengamankan monopoli perdagangan rempah, terutama pala dan cengkih, yang sangat berharga di pasar Eropa.
Arsitektur benteng ini bergaya Eropa kuno dengan dinding tebal dari batu kapur. Bentuknya persegi panjang dengan bastion di setiap sudut, dilengkapi meriam yang menghadap ke laut.
Di dalam benteng terdapat beberapa ruangan yang digunakan sebagai gudang rempah, barak tentara, dan tempat tinggal pejabat VOC.
Sisa-sisa struktur tersebut masih dapat dilihat hingga kini.
Peran dalam Perdagangan Rempah
Maluku dikenal sebagai Kepulauan Rempah karena kekayaan pala dan cengkihnya. Benteng Amsterdam menjadi pusat pengumpulan dan pengawasan rempah sebelum dikirim ke Eropa.
VOC menerapkan sistem monopoli yang ketat di wilayah ini. Petani lokal dipaksa menjual rempah hanya kepada VOC dengan harga yang ditentukan.
Pelanggaran berat bisa berakibat hukuman mati.
Benteng ini juga menjadi saksi perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme.
Salah satu tokoh terkenal adalah Pattimura yang memimpin perlawanan pada tahun 1817, meskipun benteng ini sudah tidak lagi menjadi pusat kekuasaan Belanda saat itu.
>>> Pemprov Banten Minta OPD Responsif Tangani Keluhan Warga