Huawei telah menerapkan prinsip Hukum Tao dalam beberapa produk terbaru mereka. Hasilnya, chip buatan Huawei mampu bersaing dengan produk dari kompetitor meskipun menggunakan node fabrikasi yang lebih tua.
Pendekatan ini juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam desain chip. Insinyur dapat fokus pada inovasi arsitektur tanpa terbatas oleh kemampuan litografi.
Meskipun demikian, Hukum Tao bukan tanpa tantangan. Optimalisasi arsitektur membutuhkan keahlian tinggi dan waktu pengembangan yang lebih lama.
Namun, Huawei yakin bahwa investasi ini sepadan dengan hasil yang diperoleh.
Kehadiran Hukum Tao menunjukkan bahwa industri semikonduktor tidak harus bergantung pada satu pendekatan saja. Alternatif seperti ini dapat membuka jalan bagi inovasi baru di masa depan.
Dengan Hukum Tao, Huawei berharap dapat terus menghadirkan produk-produk unggulan meskipun dalam tekanan sanksi AS. Konsep ini menjadi bukti bahwa keterbatasan dapat memicu kreativitas.
Ke depannya, Hukum Tao mungkin akan diadopsi oleh perusahaan lain sebagai strategi pengembangan chip.
>>> Erina Gudono Lulus S2 dengan IPK 4.00 di University of Pennsylvania
Industri semikonduktor global perlu beradaptasi dengan realitas baru di mana Hukum Moore tidak lagi menjadi satu-satunya acuan.