Hal ini juga menjadi kunci bagi Pakistan, yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Analis berbasis di Islamabad, Syed Mohammad Ali, mengatakan posisi Pakistan terhadap Israel tidak berubah meskipun ada usulan terbaru Trump.
Presiden AS mengaku telah membahas rencana Abraham Accords dengan para pemimpin dalam negosiasi pada Sabtu.
Trump mengatakan akan menerima jika satu atau dua negara menolak menandatangani, tetapi sebagian besar harus bersedia.
Mesir dan Yordania sudah secara resmi mengakui Israel dan memiliki perjanjian damai yang sudah lama. Turki pertama kali mengakui Israel pada 1949.
>>> Trump Kaitkan Normalisasi dengan Israel dalam Kesepakatan Damai Iran
Masood Khan, mantan duta besar Pakistan untuk AS, mengatakan masih harus dilihat seberapa layak usulan itu bagi negara-negara dalam daftar Trump.
Menurutnya, penyebutan Abraham Accords pada tahap ini memberikan dimensi baru pada proses diplomatik dan mediasi karena masalah ini sebelumnya tidak ada dalam agenda.
Ia menunjuk tekanan domestik yang dihadapi Trump untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan.
Meski demikian, Khan menilai jalur diplomatik masih berjalan dan Pakistan berada di pusatnya, didukung oleh negara-negara regional.
Belum jelas kapan atau bagaimana kesepakatan dengan Iran dapat diselesaikan. Trump mengisyaratkan bahwa Iran pun pada akhirnya bisa menandatangani Abraham Accords jika kesepakatan tercapai.
Abraham Accords adalah serangkaian perjanjian diplomatik, ekonomi, dan keamanan yang dibuat dengan pengaruh AS selama masa jabatan pertama Trump.
Awalnya antara Israel dengan Uni Emirat Arab dan Bahrain, kemudian disusul Sudan, Maroko, dan baru-baru ini Kazakhstan.
Perjanjian itu dirancang untuk mendorong kerja sama antara negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara. Pemerintahan Trump melihatnya sebagai bagian dari jalan menuju hubungan penuh dengan Israel.