Negosiator utama Iran berada di Doha pada Senin (26/5/2026) untuk melanjutkan pembicaraan guna mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.
Namun, kedua belah pihak masih meremehkan prospek kesepakatan yang akan segera tercapai.
>>> Trump Sebut Negosiasi Iran Berjalan Baik, Ancaman Serangan Lebih Kuat Jika Buntu
Harapan akan adanya kesepakatan dalam beberapa hari terakhir kembali mendapat pukulan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan "menghancurkan" Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump membuat tuntutan baru.
Ia menginginkan kesepakatan luas di Timur Tengah yang mencakup normalisasi hubungan dengan Israel sebagai bagian dari perjanjian dengan Iran.
Tuntutan Trump soal Uranium dan Normalisasi
Di tengah ancaman dan hambatan baru dari pihak AS-Israel, Trump merinci jalur penyelesaian untuk uranium yang diperkaya Iran.
Hal ini menjadi poin penting dalam upaya mengakhiri perang.
Dalam unggahan di platform Truth Social, Trump menulis bahwa uranium yang diperkaya harus segera diserahkan kepada AS untuk dihancurkan.
Atau, lebih baik, dihancurkan di tempat dengan koordinasi bersama Iran dan disaksikan oleh Komisi Energi Atom atau badan setara.
Belum jelas apakah pernyataan Trump itu merupakan bagian dari kesepakatan yang sedang muncul dengan Iran.
Komisi Energi Atom yang disebut Trump sebenarnya telah dibubarkan pada tahun 1974 dan fungsinya dibagi antara dua badan penerus.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Mesir, Turki, Bahrain, dan Yordania wajib menandatangani Perjanjian Abraham.
Perjanjian ini adalah serangkaian kesepakatan yang dirintis pada 2020 dengan negara-negara yang secara historis memusuhi Israel.
Trump mengaku telah berbicara dengan para pemimpin negara-negara tersebut pada Sabtu lalu tentang upaya mengakhiri perang dengan Iran.