Yang Shuang-zi, pemenang International Booker Prize 2026, menyatakan harapannya agar sastra dapat menjadi kekuatan yang kuat dan abadi bagi perubahan masyarakat dengan membawa pesan kepada generasi mendatang.
Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Seoul, Senin, setelah kemenangannya untuk novel sejarah berjudul "Taiwan Travelogue".
>>> Busan Luncurkan Program Homestay Sambut Konser BTS
Novel tersebut mengeksplorasi tema cinta, makanan, kolonialisme, dan identitas melalui hubungan antara seorang novelis Jepang dan penerjemahnya yang berasal dari Taiwan.
Yang dan penerjemahnya, Lin King, menjadi pasangan pertama yang memenangkan penghargaan bergengsi itu untuk novel Asia Timur sejak penulis Korea Han Kang dan penerjemah Deborah Smith menang pada 2016.
"Kekuatan sastra tidaklah cepat.
Ia tidak bekerja seperti orang sakit yang pulih dengan minum obat atau menjalani operasi," kata penulis asal Taiwan itu.
"Namun melalui sastra, kita memperpanjang percakapan hingga kita berhasil menemukan titik temu.
Meskipun percakapan itu mungkin memakan waktu lama, mungkin lebih lama dari seumur hidup seseorang, itulah yang harus kita lakukan," ujarnya.
Yang, yang mengidentifikasi dirinya sebagai aktivis sosial, mengaku terkadang merasa "tidak sabar" dengan waktu terbatas yang ia miliki untuk mengubah dunia.
"Tetapi kita semua tahu bahwa masyarakat tidak berubah sekaligus.
Jadi yang saya harapkan adalah sastra akan memperpanjang usianya, lebih panjang dari masing-masing kehidupan kita, sehingga generasi berikutnya dapat melanjutkannya," katanya.
>>> Gen Z dan Milenial Ramaikan Pameran Peruntungan Pertama di Korea
Sebagai penulis yang temanya sangat terkait dengan sejarah dan kehidupan perempuan, Yang mengatakan tujuan lain sebagai penulis adalah mencatat sejarah mimpi-mimpi perempuan yang tidak tertulis.
"Saat saya muda, sulit menemukan cerita dengan perempuan sebagai tokoh utama atau yang menggambarkan perkembangan karier mereka.
