Dua versi pementasan drama 'Uncle Vanya' karya Anton Chekhov tengah menjadi perbincangan di Seoul sepanjang Mei 2025.
Pertunjukan ini digelar di dua tempat terkenal, yaitu LG Arts Center dan National Theater Company of Korea.
>>> Mahasiswa Indonesia Gelar Forum Etika AI di Yonsei University
Kedua produksi dibuka dengan jarak beberapa pekan. Keduanya sama-sama menampilkan aktor televisi dan film ternama, sehingga menuai perhatian bahkan sebelum pentas dimulai.
Tak hanya karena bintang terkenal, penonton pun merasa dekat dengan karakter utama yang lelah dan penuh kegelisahan. Banyak warga Korea mengaku bisa memahami situasi yang dialami Vanya.
Karakter Vanya dan 'Ajeossi' Korea
Naskah asli yang pertama kali dipentaskan pada 1899 ini berpusat pada Vanya. Ia mengabdikan hidupnya mengelola tanah milik suami mendiang saudara perempuannya, seorang profesor.
Konflik muncul ketika profesor itu kembali bersama istri mudanya yang cantik, Yelena. Kedatangan mereka menghancurkan kedamaian yang selama ini dijaga Vanya bersama keponakannya, Sonya, dan tetangga-tetangganya.
Pria Korea paruh baya, yang akrab disebut 'ajeossi', dinilai mirip dengan Vanya di abad ke-21.
Mereka menghadapi pensiun dini, ketidakamanan kerja, dan anak-anak dewasa yang berjuang di tengah ekonomi stagnan.
Sutradara Son Sang-gyu mengatakan karakter Vanya mengingatkannya pada para ayah yang menunda pensiun karena rasa tanggung jawab sebagai pencari nafkah.
Mereka mengeluh tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Penulis naskah dan sutradara Cho Kwang-hwa juga menyuarakan pandangan serupa. Ia menyebut kata 'ajeossi' mungkin terdengar kuno, tetapi mereka adalah orang-orang yang menopang keluarga dan masyarakat.
Para aktor pun mengaku mengenali diri mereka dalam karakter utama.
Lee Seo-jin, yang memerankan Vanya di LG Arts Center, mengaku sudah mengalami perubahan paruh baya sebelum mengambil peran ini.
