Wabah Ebola tipe Bundibugyo yang langka di Kongo mengejutkan warga setelah menyebar tanpa terdeteksi selama berminggu-minggu. Ketika wabah diumumkan pada Mei, banyak yang menganggapnya sebagai konspirasi Barat.
Setidaknya 63 orang meninggal dari 381 kasus terkonfirmasi, menurut Menteri Kesehatan Kongo Samuel Roger Kamba. Namun, wabah ini dihadapkan pada skeptisisme, serangan terhadap petugas kesehatan, dan misinformasi.
>>> AP: Puluhan Anak yang Dipisahkan dari Orang Tua di Era Trump Kembali Dipisahkan
Verite Johnson, jurnalis dan sekretaris editorial di Radio Television Mont Bleu di Bunia, ibu kota provinsi Ituri, memutuskan memproduksi program baru untuk melawan rumor.
Acara radio ini menjadi alat penting untuk meyakinkan warga yang tidak sadar atau skeptis tentang fakta Bundibugyo.
Program berdurasi 45 menit ini tayang setiap hari pukul 10.00, mengingatkan bahaya Ebola dan menampilkan ahli kesehatan yang memberikan informasi serta menjawab pertanyaan.
Jingle tentang virus juga diputar secara intermiten, dan warga dapat menelepon untuk bertanya.
“Sejauh ini, masih ada lapisan resistensi di masyarakat, dan di situlah media memainkan peran penting,” kata Johnson.
Rumor dan Ketidakpercayaan
Resistensi terhadap protokol kesehatan saat darurat publik umum terjadi di Kongo, yang sedang menghadapi wabah Ebola ke-17 sejak virus pertama diidentifikasi pada 1976.
Saat ini belum ada vaksin atau pengobatan yang disetujui untuk Ebola Bundibugyo, menambah ketakutan.
Rumor yang meluas, sering muncul dari ketakutan dan misinformasi, membuat warga enggan mengikuti peringatan kesehatan atau mencari bantuan medis.
Beberapa warga menuduh bahwa penyakit seperti Ebola dimanfaatkan oleh pihak yang mencari keuntungan.
“Mereka tidak memisahkan pasien Ebola dari pasien flu di rumah sakit. Dari cara perawatan, kami menyimpulkan ini soal uang,” kata Samson Gerson, warga Bunia berusia 52 tahun.
