Militer Amerika Serikat pada Selasa (10/6) mengumumkan telah memulai serangan terhadap Iran.
Langkah ini buntut dari jatuhnya helikopter Apache Angkatan Darat AS di lepas pantai Oman yang ditudingkan Presiden Donald Trump kepada Iran.
>>> AS Mulai Serangan ke Iran Setelah Helikopter Apache Jatuh di Lepas Pantai Oman
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam pernyataan di media sosial menyebut serangan itu sebagai "respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak beralasan."
Sebelumnya, Trump menuding Iran menembak jatuh helikopter tersebut dan berjanji akan membalas. Media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di sebuah pulau Iran di Selat Hormuz.
Kronologi Insiden Helikopter Apache
Helikopter Apache jatuh setelah bertabrakan dengan drone Iran, menurut seorang pejabat AS yang berbicara dengan syarat anonim.
Belum jelas apakah tabrakan itu disengaja, dan pernyataan resmi hanya menyebut penyelidikan masih berlangsung.
Trump mengatakan Iran menembak jatuh pesawat itu saat sedang berpatroli di Selat Hormuz. Ia menyatakan AS "harus, tentu saja, merespons serangan ini" dalam unggahan di media sosial.
Kedua awak helikopter selamat tanpa cedera dan dievakuasi oleh kapal drone. Ini adalah pertama kalinya militer AS melakukan penyelamatan dengan drone di laut.
Kapal drone bernama Corsair sepanjang 7,3 meter itu ditugaskan ke Satuan Tugas Angkatan Laut 59, unit nirawak dan kecerdasan buatan pertama yang fokus pada keamanan maritim di Timur Tengah.
Reaksi Iran dan Dampak Gencatan Senjata
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Selat Hormuz "berjarak ribuan mil dari pantai AS."
Ia memperingatkan bahwa "pasukan asing di dekat wilayah kami selalu berisiko karena kesalahan manusia, kecelakaan biasa, atau potensi terkena baku tembak."
Insiden ini semakin merenggangkan gencatan senjata dua bulan yang rapuh. Sehari sebelumnya, Iran dan Israel saling tembak untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata berlaku.
