Drone pembawa bahan peledak menargetkan kota Irbil di Irak utara pada Jumat, 24 Juli 2026. Kota itu menjadi lokasi pangkalan militer yang menampung pasukan Amerika Serikat.
Sirene peringatan juga berbunyi di Bahrain beberapa jam setelah militer AS menyelesaikan malam ke-13 serangan terhadap Iran. Konflik kembali memanas dalam sepekan terakhir.
>>> AI OpenAI Diduga Lolos dari Sandbox dan Serang Hugging Face
AS menggempur Iran sementara Teheran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz dan menargetkan aset serta sekutu AS di kawasan.
Selat Hormuz menjadi pusat pertempuran terbaru karena serangan Iran dapat menutup jalur air vital itu.
Penutupan selat berpotensi melonjakkan harga bahan bakar global dan menyebabkan gejolak ekonomi luas.
Sekutu Iran, pemberontak Houthi, menambah tekanan dengan menargetkan dua kapal tanker Saudi di Laut Merah pekan ini.
Serangan Drone di Irbil
Pasukan pimpinan AS mencegat dan menembak jatuh lima drone berisi bahan peledak di atas Irbil. Tidak ada korban jiwa atau kerusakan dilaporkan.
Seorang jurnalis Associated Press mendengar setidaknya tujuh ledakan di kota yang merupakan ibu kota wilayah Kurdistan Irak yang semi-otonom.
Ia melihat setidaknya empat gumpalan asap hitam membubung dari area dekat atau di dalam pangkalan di bandara kota yang menampung pasukan AS.
Penerbangan di bandara tetap berjalan normal, demikian dilaporkan kantor berita Irak milik negara. Pejabat militer AS di Irak tidak menanggapi permintaan komentar.
Eskalasi di Kawasan
Pengawal Revolusi Iran mendesak warga di negara tetangga untuk menjauhi pangkalan yang memiliki tentara AS.
Mereka mengklaim telah menargetkan pangkalan AS di Udairi, Kuwait, dan menghancurkan tiga gudang amunisi dan penyimpanan.
Mereka juga mengaku telah menyerang menara pengawas Angkatan Laut AS di Bahrain. Komando Pusat AS tidak menanggapi pertanyaan tentang klaim tersebut.

