Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang direncanakan pada Jumat (19/6) di resor pegunungan Burgenstock tidak akan berlangsung.
Wakil Presiden AS JD Vance juga membatalkan rencana perjalanannya ke Swiss, menambah ketidakpastian mengenai kelanjutan gencatan senjata yang baru disepakati.
>>> Penyebab PIP Siswa Tidak Bisa Dicek dan Solusi Mengatasinya
Juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa logistik negosiasi ini tidak pernah sederhana atau dapat diprediksi. Vance dan delegasi AS siap berangkat begitu rencana final.
Kementerian Luar Negeri Swiss tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai pembatalan tersebut.
Iran belum memberikan tanggapan resmi.
Sebelumnya, Iran menyatakan siap memulai pembicaraan teknis setelah kesepakatan 14 poin yang memperpanjang gencatan senjata setidaknya 60 hari.
Namun, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa negosiator Iran perlu melihat tanda-tanda implementasi kesepakatan oleh AS sebelum delegasi mereka berangkat ke Swiss.
Kesepakatan yang Dipertanyakan
AS sebelumnya berencana mengadakan upacara penandatanganan resmi di Swiss, tetapi Kementerian Luar Negeri Iran meragukan rencana itu dan menyebutnya tidak perlu.
Perang yang dimulai pada 28 Februari dengan serangan udara AS dan Israel ke Iran telah menewaskan sedikitnya 7.000 orang, melonjakkan harga energi, dan mengguncang pasar global.
Israel, yang tidak dilibatkan dalam pembicaraan damai, menjauhkan diri dari kesepakatan AS-Iran dan terus melanjutkan pertempuran melawan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Di Washington, sekutu Partai Republik Trump di Kongres mempertanyakan apakah ia terlalu banyak berkonsesi untuk mengakhiri konflik yang tidak populer di kalangan pemilih menjelang pemilu paruh waktu November.
Trump sebelumnya bersumpah untuk mengakhiri perang hanya dengan "penyerahan tanpa syarat" Iran.
Namun, nota kesepahaman yang ditandatangani justru memberikan keringanan sanksi ekonomi, mencairkan aset puluhan miliar dolar, dan memberikan keringanan ekspor minyak.