Pembatalan rencana pertemuan antara negosiator Amerika Serikat dan Iran di Swiss pada Jumat menimbulkan ketidakpastian baru mengenai waktu dimulainya perundingan yang bertujuan mengubah nota kesepahaman menjadi kesepakatan damai permanen.
Perundingan juga berpotensi diperumit oleh eskalasi pertempuran di Lebanon, di mana Israel melancarkan serangan baru terhadap militan Hizbullah.
>>> Minat PIP Meningkat, Cermin Kekhawatiran Ekonomi Rumah Tangga
Otoritas Lebanon melaporkan 18 orang tewas dalam serangan udara, sementara Israel mengatakan empat tentaranya tewas dalam salah satu serangan paling mematikan dari kelompok yang didukung Iran itu.
Persiapan Teknis Tersendat
Nota kesepahaman yang ditandatangani pekan ini oleh presiden Iran dan AS menunda pembahasan program nuklir Iran dan isu-isu sulit lainnya hingga nanti.
Kedua belah pihak diberi waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan abadi atau memperpanjang kesepakatan sementara.
Persiapan untuk perundingan teknis di resor pegunungan Buergenstock, Swiss, sudah jauh berjalan ketika Wakil Presiden AS JD Vance pada Kamis mengatakan ia membatalkan rencana untuk hadir, menurut dua orang yang mengetahui masalah tersebut.
Sebelumnya pada Kamis, seorang sumber yang mengetahui pemikiran Teheran mengatakan negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf tidak berencana untuk hadir.
Konflik Lebanon Jadi Faktor Penghambat
Tidak hanya beberapa isu terberat yang masih belum terselesaikan, upaya untuk mengamankan kesepakatan abadi juga bisa diperumit oleh konflik Israel di Lebanon dengan Hizbullah.
Kesepakatan sementara mengharuskan AS, Iran, dan sekutu mereka untuk menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon.
Israel, yang tidak dilibatkan dalam perundingan, mengatakan tidak terikat pada kesepakatan tersebut.
Kekerasan di Lebanon mereda awal pekan ini, namun kembali meningkat. Swiss menyatakan perundingan ditunda dan tetap siap memfasilitasi pembicaraan.