Krisis keuangan yang melanda Megabox JoongAng memicu kekhawatiran di industri film Korea. Para pembuat film dan distributor memperingatkan bahwa masalah ini tidak hanya berdampak pada satu jaringan bioskop.
Megabox merupakan salah satu dari tiga operator multiplex utama di Korea Selatan. Melalui divisi Plus M Entertainment, perusahaan ini juga menjadi pemain kunci dalam investasi dan distribusi film.
Pada 12 Juni lalu, Megabox JoongAng bersama lima afiliasi JoongAng Group mengajukan restrukturisasi perusahaan ke Pengadilan Kebangkrutan Seoul.
Langkah ini terjadi beberapa hari setelah JTBC, stasiun televisi utama grup tersebut, menyatakan gagal bayar utang sebesar 20,6 miliar won (sekitar Rp 240 miliar).
Meskipun bioskop Megabox masih beroperasi normal, pengajuan tersebut mengguncang industri.
Selama lebih dari dua dekade, Megabox berdiri sejajar dengan CGV dan Lotte Cinema sebagai tiga jaringan multiplex utama Korea.
Perusahaan juga tengah mempersiapkan perilisan film "Hope" pada Juli mendatang, film fiksi ilmiah thriller garapan sutradara Na Hong-jin yang sangat dinantikan.
Dampak pada Ekosistem Film
Seorang pejabat dari sebuah perusahaan film lokal yang enggan disebutkan namanya mengatakan, "Jika Megabox mengalami kesulitan serius, dampaknya tidak akan berhenti di bioskop."
"Distributor, perusahaan produksi, perusahaan pemasaran, dan bahkan kru film semuanya bisa terpengaruh. Seluruh ekosistem saling terhubung," tambahnya.
Salah satu kekhawatiran langsung adalah pembayaran penyelesaian antara bioskop dan distributor.
Pejabat lain mengungkapkan kecemasan apakah distributor dan produser akan terus menerima pembayaran tepat waktu seiring berjalannya proses pengadilan.
"Ada banyak ketidakpastian di industri saat ini. Orang-orang khawatir apakah pembayaran akan berjalan normal dan apakah proyek masa depan akan terpengaruh," ujarnya.
Kondisi Bisnis Bioskop yang Sulit
Kekhawatiran ini muncul saat bisnis bioskop Korea terus berjuang melawan perubahan kebiasaan menonton.
Menurut Korean Film Council, total pendapatan bioskop mencapai 1,05 triliun won pada 2025, turun 12,4 persen dari tahun sebelumnya.
Angka tersebut hanya 57,3 persen dari rata-rata tingkat yang tercatat antara 2017 dan 2019, sebelum pandemi.
Jumlah penonton bioskop mencapai 106 juta tahun lalu, kurang dari setengah rata-rata sebelum pandemi.
Angka-angka ini menyoroti tantangan industri, dengan Megabox berada dalam posisi terlemah.
Pada kuartal pertama 2026, CGV mencatat penjualan 573,4 miliar won dan laba operasi 8,7 miliar won.
Lotte Cultureworks, operator Lotte Cinema, melaporkan penjualan 124,6 miliar won dan laba operasi 7,9 miliar won.
Sementara itu, Megabox JoongAng melaporkan penjualan 61,8 miliar won tetapi masih merugi dengan kerugian operasi 1,4 miliar won.
Masa Depan Merger Megabox dan Lotte Cinema
Krisis ini juga menimbulkan ketidakpastian atas rencana merger antara Megabox dan Lotte Cinema.
Kesepakatan yang dipandang banyak pihak sebagai potensi penyelamat bagi bisnis bioskop Korea itu telah dalam pembicaraan sejak tahun lalu.
Perjanjian awal kedua perusahaan akan berakhir pada 30 Juni. Meskipun ada komplikasi akibat pengajuan restrukturisasi, diskusi kemungkinan akan berlanjut di bawah pengawasan pengadilan.