Otoritas di sejumlah negara Eropa melarang penjualan alkohol dan membatalkan acara akhir pekan saat gelombang panas mematikan diperkirakan bergerak ke timur pada Jumat (26/6).
Sekitar 150 juta orang di Eropa diperkirakan mengalami suhu di atas 35 derajat Celsius, menurut perhitungan AFP berdasarkan prakiraan cuaca.
>>> Krimea yang Dianeksasi Rusia Nyatakan Darurat Akibat Serangan Ukraina
Lebih dari 420 juta orang di seluruh Eropa (tidak termasuk Turki) diperkirakan akan merasakan suhu maksimum di atas 30 derajat Celsius, atau sekitar 70 persen populasi.
Rumah Sakit Kewalahan
Layanan Ambulans London melaporkan bahwa panas ekstrem pada Rabu (24/6) menyebabkan jumlah panggilan darurat mengancam jiwa tertinggi dalam sehari.
Prancis mencatat peningkatan empat kali lipat kunjungan ke unit gawat darurat karena masalah terkait panas dan lonjakan kasus henti jantung, demikian menurut kementerian kesehatan.
Kepala Polisi Paris Patrice Faure mengatakan, "Kami mencapai titik jenuh di fasilitas rumah sakit," seraya mengumumkan larangan langka penjualan alkohol malam hari di Paris selama akhir pekan.
Paris juga menunda parade Pride yang dijadwalkan pada Sabtu (27/6) sore.
Hilary Williams, wakil presiden klinis dari Royal College of Physicians Inggris, mengatakan rumah sakit melaporkan peralatan medis dan IT seperti pemindai MRI rusak akibat panas.
"Pasien kami kepanasan. Staf benar-benar kepanasan.
Dan menurut saya, insiden kritis ini menunjukkan bahwa mesin tidak dapat bertahan," katanya kepada AFP pada Kamis (25/6).
Ia menambahkan bahwa National Health Service "tidak dibangun untuk panas ekstrem" dan gedung-gedung tua tidak dirancang untuk tekanan tinggi.
Gelombang Panas Bergerak ke Timur
Dinas cuaca Jerman DWD memperingatkan "tekanan panas parah hingga ekstrem di hampir seluruh wilayah negara" dan rekor suhu kemungkinan akan terpecahkan.
