Filosofi 'Pohon adalah Tuan'
Chollipo Arboretum menganut filosofi 'arboretum tempat pohon menjadi tuan'. Kebijakannya adalah meminimalkan campur tangan manusia dalam pertumbuhan vegetasi.
Seorang pemandu arboretum menjelaskan bahwa staf bertahun-tahun berdebat apakah tanaman merambat yang menutupi pohon pinus harus dihilangkan.
'Kami memutuskan untuk menerimanya sebagai bagian dari alam dan mengelola keseimbangan agar mereka bisa hidup berdampingan,' katanya.
Ancaman mematikan seperti penyakit layu pinus tetap dicegah dengan tindakan pengendalian dini.
Karena filosofi ini, arboretum lebih fokus pada penelitian dan konservasi, dan baru dibuka untuk umum pada 2009, tujuh tahun setelah pendirinya wafat.
Keputusan membuka arboretum muncul setelah tumpahan minyak Hebei Spirit pada Desember 2007 yang melumpuhkan ekonomi lokal.
Chollipo Arboretum diharapkan menjadi daya tarik utama untuk memulihkan kawasan tersebut, dan kini dikunjungi lebih dari 200.000 orang setiap tahun.
Pesona Taman Astilbe dan Kolam Teratai
Saat awal musim panas, sudut paling memikat di arboretum adalah Taman Astilbe.
Tanaman asli Korea ini dikenal dengan nama noruojum, tetapi di luar negeri disebut Astilbe dan sering digunakan dalam karangan bunga pengantin.
>>> Perjalanan Stabil Pianis Cho Seong-jin Menuju Kehebatan Musik
Taman ini memiliki 120 taksa Astilbe dengan warna putih lembut, merah muda, merah, dan ungu.
Puncak musimnya adalah Juni dan Juli, dan bulu-bulu halus tanaman ini kini tumbuh lebat.
Kolam-kolam di Miller Garden, area publik seluas 65.623 meter persegi, mulai dipenuhi bunga teratai dan lotus.
Kolam-kolam ini awalnya dibangun sebagai reservoir air tawar, kini menjadi spot foto favorit.
Menginap di Tengah Arboretum
Pengalaman paling autentik di Chollipo Arboretum adalah menginap di dalam taman.
Terdapat tujuh rumah bergaya berbeda yang tersebar di area arboretum, mulai dari rumah tradisional Korea beratap genteng dan jerami hingga rumah bergaya Barat dengan pemandangan laut.