Ketiga, kerentanan keuangan tetap menjadi perhatian.
Penilaian aset yang tinggi dan tanda-tanda kepuasan investor telah membuat pasar obligasi inti lebih rapuh, sementara pembiayaan booming AI juga semakin bergantung pada utang dan struktur pendanaan yang kompleks di seluruh rantai pasokan.
Keempat, utang publik yang mencapai rekor tertinggi dan pasar utang negara yang semakin didominasi oleh hedge fund besar dengan leverage tinggi telah menciptakan "hubungan baru antara kedaulatan dan stabilitas keuangan" yang meningkatkan risiko.
Frank Smets, kepala departemen moneter dan ekonomi BIS, mengatakan bahwa hubungan fiskal-keuangan baru ini dapat berarti penurunan nilai obligasi negara yang lebih sering dan tajam, yang dapat dengan cepat memperketat kondisi keuangan.
De Cos menekankan bahwa pesan BIS adalah tentang "urgensi" dalam hal perlunya menurunkan tingkat utang di negara-negara ekonomi utama, karena faktanya saat ini utang tinggi dan dibiayai melalui perantara keuangan non-bank.
BIS mendesak para pembuat kebijakan untuk memprioritaskan stabilitas harga, memastikan keberlanjutan fiskal, mengoordinasikan dan memperkuat pengawasan di luar sektor perbankan, serta melakukan reformasi struktural.
>>> PGN SOR II Gelar GCM 2026, Perkuat Sinergi Industri Gas Jawa Bagian Barat
"Pembuat kebijakan harus bertindak sekarang. Penundaan hanya akan membuat penyesuaian yang diperlukan menjadi lebih mahal," kata de Cos.
