Dana Moneter Internasional (IMF) telah mencapai kesepakatan tingkat staf dengan pemerintah Mesir terkait peninjauan program pinjaman negara tersebut.
Kesepakatan ini membuka jalan bagi pencairan dana sebesar $1,6 miliar.
Mesir memiliki beberapa program dengan IMF, termasuk Extended Fund Facility senilai $8,5 miliar yang dimulai pada 2022 dan Resilience and Sustainability Facility senilai $1,3 miliar yang ditandatangani tahun lalu.
Negara yang memiliki utang besar ini masih bergulat dengan inflasi dua digit. Dampak perang AS-Israel melawan Iran mempengaruhi sektor energi dan lainnya, sehingga mata uang Mesir terdepresiasi.
"Dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi Mesir masih relatif terkendali, didukung oleh kebijakan otoritas yang tepat waktu dan tegas," kata Amine Mati, kepala misi IMF untuk Mesir, dalam pernyataan Senin.
Meski demikian, IMF memperingatkan bahwa risiko penurunan masih signifikan, termasuk tekanan inflasi global baru dan pengetatan kondisi keuangan.
Pada April lalu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi 1,1 persen akibat efek perang melawan Iran.
IMF dijadwalkan merilis pembaruan World Economic Outlook pekan depan.
Mati menyoroti upaya Mesir meningkatkan pendapatan domestik dan memperkuat manajemen utang publik. Namun ia memperingatkan bahwa masih diperlukan langkah lebih lanjut untuk menempatkan ekonomi Mesir pada jalur berkelanjutan.
Kesepakatan ini selanjutnya akan dipertimbangkan oleh dewan eksekutif IMF sebelum pencairan dana dapat dilakukan.