Sektor industri pengolahan nonmigas Indonesia mencatat pertumbuhan 5,88 persen pada triwulan III 2026. Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,47 persen.
Angka tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (5/11/2026). Pertumbuhan ini juga lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 5,58 persen.
Dibandingkan triwulan II 2026 yang tumbuh 5,32 persen, terjadi kenaikan sebesar 0,56 poin persentase.
Jika sektor minyak dan gas bumi turut dihitung, industri pengolahan secara keseluruhan tumbuh 5,87 persen.
Furnitur hingga Logam Dasar Jadi Penopang
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai capaian itu menunjukkan ketahanan sektor industri di tengah tantangan ekonomi global. Ia menyebut pertumbuhan tersebut memperkuat peran industri sebagai penggerak utama perekonomian nasional.
Dari sisi subsektor, industri furnitur mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,68 persen. Kinerja itu berbalik dari kontraksi 4,34 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Industri logam dasar tumbuh 9,94 persen, meski melambat dibandingkan 18,62 persen pada triwulan III 2025.
Sementara itu, industri makanan dan minuman meningkat menjadi 7,09 persen dari sebelumnya 6,49 persen.
Subsektor lain juga mencatat pertumbuhan positif.
Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki tumbuh 9,75 persen, sedangkan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mencapai 8,10 persen.
Industri pengolahan lainnya, termasuk jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan, tumbuh 7,01 persen.
Industri tekstil dan pakaian jadi mencatat pertumbuhan 6,22 persen, sementara industri alat angkutan mencapai 6,14 persen.
Sarmuji menilai kontribusi berbagai subsektor memperlihatkan pertumbuhan manufaktur tidak hanya bergantung pada satu jenis industri. Keragaman itu juga mendukung penciptaan nilai tambah dan perluasan pasar.
Kontribusi ke PDB dan Indikator Oktober 2026
Dari sisi kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB), industri pengolahan termasuk sektor migas menyumbang 19,22 persen pada triwulan III 2026.
Angka itu meningkat dibandingkan 18,50 persen pada triwulan sebelumnya dan 19,15 persen pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan harga berlaku, nilai tambah industri pengolahan mencapai Rp 1.295,5 triliun. Sarmuji menyebut kontribusi tersebut menunjukkan manufaktur tetap menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Sarmuji juga menyebut sejumlah indikator industri mengalami perbaikan selama Oktober 2026. Menurut dia, semua indikator membaik dan menjadi modal penting untuk memperkuat struktur industri nasional.
Penguatan manufaktur terlihat dari kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global.
Pada Oktober 2026, indeks mencapai 54,0, meningkat dari 52,4 pada September 2026 dan menjadi level tertinggi sejak Maret 2024.
Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dirilis Kementerian Perindustrian juga meningkat 1,84 poin menjadi 53,77 pada Oktober 2026 dari 51,93 pada bulan sebelumnya.
Nilai itu merupakan level tertinggi sejak Februari 2026.
Kenaikan IKI terutama didorong oleh pesanan baru yang mencapai indeks 56,08, level tertinggi kedua sejak November 2022.
Indeks produksi juga meningkat menjadi 55,38.
Sarmuji menyebut ketiga indikator, yakni PMI, IKI, dan pertumbuhan industri pengolahan, menunjukkan penguatan secara bersamaan.
Ia menilai aktivitas pabrik makin bergairah, pelaku industri makin yakin, dan pertumbuhan industri makin cepat.
Pemerintah mendorong penguatan kebijakan industri melalui jaminan ketersediaan bahan baku, pasokan energi kompetitif, kepastian berusaha, serta peningkatan produktivitas.
Investasi produktif, pendalaman struktur industri, dan penggunaan produk dalam negeri juga menjadi perhatian.
Penguatan daya saing industri kecil dan menengah (IKM), termasuk kemitraan dengan industri besar, turut masuk dalam agenda pemerintah.
Peningkatan pesanan baru dan produksi selama Oktober 2026 menjadi indikator berlanjutnya momentum manufaktur pada awal triwulan IV 2026.