Warga Amerika Serikat merayakan hari jadi ke-250 kemerdekaan bangsa mereka pekan ini. Namun, perayaan tersebut diwarnai perpecahan politik dan keraguan akan masa depan negara.
Mark Twain pernah menulis pada 1905 bahwa patriotisme sejati adalah kesetiaan kepada bangsa, bukan kepada pemerintah.
>>> AS Tandatangani Perjanjian Bangun Kedutaan Besar Permanen di Yerusalem
Kini, di tengah polarisasi, baik pendukung maupun penentang Presiden Donald Trump ikut merayakan.
Cinta tanah air hadir dalam berbagai bentuk.
Ada yang mencintai Amerika apa adanya, ada yang memperjuangkan perubahan menuju "persatuan yang lebih sempurna", dan ada pula yang merindukan masa lalu.
Namun, keyakinan pada keistimewaan Amerika (American exceptionalism) menurun.
Jajak pendapat AP-NORC pada April 2026 menunjukkan 44% responden menganggap AS hanya salah satu negara terbaik, bukan yang terbaik.
Dua Organisasi Bersaing Pimpin Perayaan
Perpecahan dimulai dari pucuk pimpinan. Kongres sebelumnya membentuk America250, sebuah kelompok bipartisan yang bertugas merencanakan perayaan.
Namun, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang menjadikan Freedom 250 sebagai organisasi nasional yang berkuasa.
Acara utama seperti kembang api di National Mall, parade kapal tinggi di New York, dan Great American State Fair dikelola oleh Freedom 250 milik Trump.
Beberapa bintang musik mundur karena khawatir acara akan dipolitisasi.
>>> Gaji Kepala SPPG 2026: Segini Nominal Resmi Usai Jadi PPPK
Trump mengisi kekosongan dengan menyebut dirinya "atraksi nomor satu" dan berpidato pada 24 Juni.
Ia juga akan menjadi pembicara utama pada acara resmi 4 Juli di Washington, yang disebutnya "rally Trump paling spektakuler".
Sementara itu, America250 menggelar America's Block Party di seluruh negeri, dengan konser amal di Los Angeles yang dibawakan Queen Latifah, Chris Stapleton, dan Smashing Pumpkins.