unique visitors counter
⌂ Beranda News Makna Lagu 'Lalaki Langit Lalanang Bejat' Om Zein yang Tuai Kontroversi

Makna Lagu 'Lalaki Langit Lalanang Bejat' Om Zein yang Tuai Kontroversi

Makna Lagu 'Lalaki Langit Lalanang Bejat' Om Zein yang Tuai Kontroversi
Ilustrasi: Makna Lagu 'Lalaki Langit Lalanang Bejat' Om Zein yang Tuai Kontroversi
A A Ukuran Teks16px
alt mid

Lagu berbahasa Sunda berjudul 'Lalaki Langit, Lalanang Bejat' yang dinyanyikan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, tengah menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Lagu ini pertama kali diperkenalkan dalam acara Hajat Bumi di Lingga Mukti. Om Zein kemudian mengunggahnya di TikTok pada 18 Januari 2026, sehingga mulai dikenal luas.

>>> Danantara Rilis Kinerja BUMN, Lapkeu Konsolidasi Masih Diaudit

alt mid

Sejumlah potongan lirik yang membandingkan pengalaman biologis perempuan dengan kehidupan laki-laki menjadi sorotan warganet.

Banyak pihak menilai isi lagu tersebut berpotensi melanggengkan pandangan yang merendahkan perempuan dan bertentangan dengan kesetaraan gender.

Kritik dari Anggota DPR

Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, menyampaikan kritik terbuka melalui akun Instagram pribadinya.

alt mid

Ia mengaku telah berusaha memahami makna lagu tersebut, tetapi tidak menemukan pesan penghormatan terhadap perempuan.

>>> IHSG Naik 1,7% tetapi Nilai Transaksi Hanya Rp6,4 T

"Jujur, saya tidak habis pikir.

Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan," ujar Atalia.

Atalia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang hanya sebagai kebebasan berekspresi atau selera seni. Menurutnya, budaya Sunda menjunjung tinggi nilai penghormatan terhadap sesama, termasuk perempuan.

"Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi.

>>> SPMB Gunungkidul 2026: Jadwal Terbaru, Jalur, dan Cara Cek Kuota Sekolah

Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," katanya.

alt under
R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
alt mid
📰 Update Terbaru