unique visitors counter
⌂ Beranda Hiburan TECNO dan Angélica Dass Luncurkan Proyek AI untuk Representasi Manusia yang Autentik
Hiburan

TECNO dan Angélica Dass Luncurkan Proyek AI untuk Representasi Manusia yang Autentik

TECNO dan Angélica Dass Luncurkan Proyek AI untuk Representasi Manusia yang Autentik
TECNO dan Angélica Dass Luncurkan Proyek AI untuk Representasi Manusia yang Autentik
A A Ukuran Teks16px

Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) dalam fotografi digital, muncul pertanyaan krusial: Apakah AI benar-benar melihat semua manusia secara adil?

Jawabannya: belum.

>>> Xiaomi Konfirmasi HyperOS 4 Rilis Agustus 2026, Ini HP Pertama yang Kebagian

Selama bertahun-tahun, sistem kamera smartphone kerap gagal mereproduksi warna kulit gelap secara akurat. Hasilnya adalah foto yang terlalu gelap, terlalu terang, atau kehilangan detail alami.

Menjawab tantangan ini, TECNO, produsen smartphone asal Tiongkok, menggandeng Angélica Dass, seniman visual Brasil-Spanyol yang terkenal lewat proyek Humanæ.

Mereka meluncurkan inisiatif global bernama "100 Portraits of Becoming".

Proyek dua tahun ini bukan sekadar pameran foto, melainkan gerakan budaya yang menggabungkan teknologi, seni, dan hak asasi manusia dalam era AI.

Mengapa Representasi Manusia dalam AI Masih Bermasalah?

Sejak awal era fotografi digital, standar pencahayaan dan warna didasarkan pada kulit berwarna terang. Akibatnya, kulit berpigmen lebih gelap sering kali tidak tertangkap dengan akurat.

Masalah ini berlanjut ke era AI, di mana model pembelajaran mesin dilatih pada dataset yang tidak seimbang.

>>> Takeru Satoh Bergabung dalam Film Kung Fu Soccer Stephen Chow

Sistem pengenalan wajah, filter kecantikan, bahkan kamera smartphone cenderung mengabaikan keragaman warna kulit manusia.

Studi dari MIT dan Stanford menunjukkan bahwa beberapa algoritma pengenalan wajah memiliki tingkat kesalahan hingga 34% lebih tinggi pada perempuan kulit gelap dibanding laki-laki kulit terang.

TECNO menyadari tanggung jawabnya sebagai pemain teknologi global. "Teknologi harus merepresentasikan orang sebagaimana adanya," tegas perusahaan dalam siaran persnya.

"100 Portraits of Becoming": Bukan Sekadar Potret, Tapi Narasi Hidup

Proyek ini akan mengabadikan 100 individu dari lima negara: Kenya, Filipina, Arab Saudi, Turki, dan Brasil.

Setiap peserta dipilih bukan karena penampilannya, tapi karena kisah hidup, perjuangan, dan identitas uniknya.

Berbeda dengan potret komersial yang sering menggunakan filter, pencahayaan buatan, atau pose terstruktur, semua foto dalam proyek ini diambil dalam kondisi alami.

>>> Daftar Harga Tiket Konser ENHYPEN di Jakarta, Termurah Rp1,45 Juta

Proyek dimulai di Nairobi, Kenya, dan akan menyebar ke Filipina, Arab Saudi, Turki, hingga Brasil.

📰 Update Terbaru