Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa mengajak para ulama, kiai, akademisi, dan kalangan pesantren untuk menghidupkan kembali tradisi menulis kitab.
Menurutnya, tradisi ini penting untuk memperkuat khazanah keilmuan Islam di Indonesia.
>>> AS Kembali Serang Iran Setelah Trump Nyatakan Gencatan Senjata Berakhir
Ajakan tersebut disampaikan menjelang peluncuran dan bedah kitab karyanya berjudul Ithafu Ummati Al Muqtafa.
Acara akan digelar pada Jumat (10/7/2026) pukul 19.00 WIB di Aula Sakinah Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat.
Kegiatan bertajuk Launching & Bedah Kitab Ithafu Ummati Al Muqtafa – Persembahan untuk Umat Kanjeng Nabi SAW itu menjadi momentum untuk menghidupkan tradisi intelektual ulama.
Fokusnya adalah budaya menulis kitab di lingkungan pesantren, perguruan tinggi Islam, dan lembaga keagamaan.
Tradisi Menulis sebagai Warisan Ilmu
KH Zulfa menegaskan bahwa peradaban Islam tidak hanya dibangun melalui pengajaran dan dakwah lisan, tetapi juga melalui karya tulis ulama.
Karya tulis menjadi warisan ilmu lintas generasi.
"Tradisi ulama adalah tradisi ilmu. Dan tradisi ilmu tidak akan kokoh tanpa tradisi menulis.
>>> Sebagian Pejabat The Fed Nilai Ada Alasan Kerek Suku Bunga pada Juni
Para ulama terdahulu tidak hanya mendidik murid, tetapi juga meninggalkan kitab sebagai warisan intelektual bagi umat," ujar KH Zulfa.
Menurutnya, kitab-kitab ulama terdahulu menjadi penghubung antara generasi masa lalu dan masa kini. Pemikiran, ilmu, serta nilai-nilai keislaman tetap dapat dipelajari meski penulisnya telah wafat.
Ia menilai pesantren selama ini telah menjadi pusat pembelajaran ilmu-ilmu keislaman melalui kajian kitab kuning. Namun, pesantren juga perlu melahirkan karya baru yang mampu menjawab persoalan masyarakat modern.
"Penting bagi kita membaca, mengaji, dan mengkaji kitab para ulama terdahulu.
Tetapi para ulama juga memiliki tanggung jawab untuk melahirkan karya yang dapat menjadi rujukan bagi generasi mendatang," katanya.
KH Zulfa menyebut tantangan umat Islam saat ini semakin beragam, mulai dari perkembangan teknologi, perubahan sosial, hingga persoalan kebangsaan dan kemanusiaan.
>>> Puing Pesawat Boeing 737 K2 Airways Ditemukan, 5 Kru Masih Dicari
Kondisi tersebut membutuhkan jawaban keilmuan dari para ulama yang tetap berpegang pada tradisi sekaligus memahami perkembangan zaman.

