Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah Garda Revolusi Iran menyerang sebuah kapal kontainer yang melintas di Selat Hormuz pada Minggu.
Komando Pusat AS mengidentifikasi kapal tersebut sebagai M/V GFS Galaxy, sebuah kapal kontainer berbendera Siprus.
>>> AS Luncurkan Gelombang Serangan Ketiga ke Iran
Serangan menyebabkan kerusakan parah pada ruang mesin dan seorang awak sipil dilaporkan hilang.
Iran menyatakan bahwa kapal tersebut melintas di jalur yang tidak disetujui dan mengabaikan peringatan untuk mengoreksi rute.
Garda Revolusi kemudian menutup Selat Hormuz dan memperingatkan bahwa setiap balasan akan mendapat respons keras.
Gencatan Senjata Berakhir
Serangkaian serangan antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir mendorong Presiden Donald Trump menyatakan berakhirnya gencatan senjata yang bertujuan menghentikan pertempuran sejak 28 Februari.
Meski demikian, Trump masih membuka pintu untuk negosiasi lanjutan.
Komando Pusat AS mengatakan serangan dimulai pukul 19.15 ET (23.15 GMT) pada Sabtu, sekitar satu jam setelah Iran merilis pernyataan yang memperingatkan bahwa "basis musuh baru" di Timur Tengah akan menjadi sasaran jika AS membalas insiden kapal kontainer tersebut.
Trump memerintahkan serangan itu, menurut Komando Pusat. Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Dampak pada Energi dan Diplomasi
Perang ini telah mengganggu stabilitas Teluk, sementara blokade efektif Iran di Selat Hormuz menyebabkan harga energi melonjak dan memicu inflasi global.
Kenaikan harga, terutama bensin, menjadi isu sensitif bagi Trump menjelang pemilu kongres November.
Washington menuntut Teheran secara terbuka menyatakan akan menghentikan serangan terhadap kapal di selat tersebut dan membuka semua jalur tanpa bea, demikian menurut pejabat senior AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh AS melanggar perjanjian gencatan senjata. "Hanya ada kepatuhan timbal balik," tulisnya di X pada Jumat.
