Ekonom Center of Reform on Economics (Core) meminta pemerintah untuk lebih cermat dalam mengelola impor minyak dan gas (migas).
Hal ini menyusul memanasnya kembali hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menyebabkan Selat Hormuz kembali sepi.
Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menegaskan bahwa Indonesia merupakan importir neto minyak mentah. Sebagian besar impor gas minyak cair atau LPG Indonesia juga berasal dari Timur Tengah.
Oleh karena itu, impor kedua komoditas tersebut sangat bergantung pada kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.
Yusuf menilai jika gangguan berlangsung lebih lama, dampaknya akan terasa melalui kenaikan harga dan potensi keterbatasan pasokan.
“Bagi Indonesia, yang perlu lebih diwaspadai justru bukan hanya harga minyak mentah, tetapi juga pasokan produk olahan dan LPG.
Indonesia merupakan importir neto minyak dan sebagian besar impor LPG berasal dari Timur Tengah sehingga sangat bergantung pada kelancaran pelayaran melalui Selat Hormuz,” kata Yusuf ketika dihubungi, Senin (13/7/2026).
Menurut Yusuf, terganggunya jalur perdagangan migas global tersebut akan memberikan tekanan terhadap anggaran negara. Sebab, harga minyak bergerak di atas asumsi Indonesia Crude Price (ICP).