WASHINGTON — Harga produsen di Amerika Serikat secara tak terduga mengalami penurunan pada Juni 2025. Ini menjadi indikasi lain bahwa inflasi sedang mereda sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah.
Biro Statistik Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan, Indeks Harga Produsen (PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3 persen pada Juni.
>>> Penyaluran Beras SPHP Baru 55% dari Target, Bapanas Ungkap Realisasi
Angka ini kontras dengan kenaikan 0,6 persen yang telah direvisi turun pada Mei.
Para ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah. Sebelumnya, kenaikan PPI pada Mei dilaporkan sebesar 1,1 persen.
Secara tahunan, PPI meningkat 5,5 persen pada Juni, melambat dibandingkan kenaikan 6,0 persen pada Mei.
Penurunan bulanan terutama disebabkan oleh harga barang yang turun 1,4 persen, penurunan terbesar sejak Juli 2022.
Harga energi anjlok 6,4 persen, sementara harga grosir makanan turun 0,6 persen. Di sisi lain, harga jasa naik tipis 0,2 persen.
Gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh pekan lalu setelah tanker komersial diserang di Selat Hormuz.
Hal ini memicu serangan militer antara kedua negara dan mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat minggu setelah Washington memberlakukan kembali blokade angkatan laut terhadap Iran.
>>> Istana Ungkap Isi Pertemuan Prabowo dengan Jaksa Agung dan Kapolri
Sebelumnya, pemerintah melaporkan Indeks Harga Konsumen (CPI) turun 0,4 persen pada Juni, penurunan terbesar sejak April 2020.
Penurunan ini terutama mencerminkan penurunan harga energi, sehingga memperlambat inflasi konsumen tahunan menjadi 3,5 persen dari 4,2 persen pada Mei.
Federal Reserve (Fed) menggunakan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebagai acuan target inflasi 2 persen.
Sebelum data PPI dirilis, ekonom memperkirakan inflasi PCE inti naik 0,2 persen pada Juni, yang berarti kenaikan tahunan sebesar 3,3 persen.
Pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen pada bulan ini.
Namun, para pedagang masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga pada September.
Inflasi terakhir kali berada di bawah 2 persen pada awal 2021.
>>> Link MagangHub Kemnaker Batch 1 2026 Resmi Dibuka, Simak Cara Daftar, Jadwal, dan Tips Lolos Seleksi
Ketua Fed Kevin Warsh mengatakan kepada anggota parlemen bahwa bank sentral tidak memiliki toleransi terhadap inflasi yang terus-menerus tinggi.
