Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidasi hingga sideways pada pekan ini.
Investor akan mencermati sejumlah sentimen, termasuk rilis inflasi Amerika Serikat, perkembangan konflik AS-Iran, serta penantian tinjauan peringkat kredit Indonesia oleh S&P.
>>> AS Kembali Serang Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, mengatakan IHSG menguat 0,83% secara mingguan ke level 5.924.
Penguatan ini ditopang rebound teknikal dan membaiknya sentimen domestik.
Namun, penguatan masih terbatas seiring jual bersih asing Rp1,68 triliun di pasar reguler dan pelemahan rupiah mendekati Rp18.100 per dolar AS.
>>> Iran Kecam Serangan AS dan Beri Peringatan Keras ke Negara Tetangga
"Momentum mulai membaik, namun penembusan level 6.000 masih diperlukan untuk mengonfirmasi penguatan lanjutan," kata Reza dalam risetnya pada Senin (13/7/2026).
Inflasi AS dan Dampaknya
Pasar pekan ini akan mencermati inflasi AS periode Juni.
Inflasi utama diperkirakan melandai menjadi 3,9% secara tahunan dari 4,2%, sementara inflasi inti diproyeksi bertahan 2,9%.
>>> OJK Limpahkan Tersangka Kasus BPR SAWA ke Kejaksaan
"Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi memperkuat narasi higher for longer dan menekan rupiah, sedangkan data yang lebih rendah dapat membuka peluang risk-on," ujarnya.

