Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan tuduhan serius terhadap China. Ia mengeklaim bahwa Beijing telah mengintervensi Pemilihan Presiden AS pada tahun 2020.
Tuduhan ini disampaikan Trump dalam pidato yang disiarkan langsung dari Gedung Putih pada Kamis, 16 Juli 2026.
>>> Roy Suryo Ajukan Praperadilan Ketiga, Tuntut Ganti Kerugian ke Polda Metro Jaya dan Kejaksaan
Ia menyebut China telah mencuri 220 juta data pemilih AS, termasuk nama dan alamat.
Trump menyebut insiden tersebut sebagai "kebocoran data pemilu terbesar dalam sejarah". Namun, klaim ini sebelumnya telah dibantah oleh badan intelijen AS.
Pernyataan Trump muncul hanya beberapa bulan sebelum rencana kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS pada September mendatang.
>>> Penyebab dan Solusi Gagal Verifikasi Wajah saat Daftar MagangHub Kemnaker 2026
Kunjungan itu awalnya dimaksudkan untuk menstabilkan hubungan bilateral dan menjaga gencatan perang dagang.
Trump juga menuduh badan intelijen AS sengaja menyembunyikan informasi mengenai upaya China mencampuri Pilpres 2020. Pilpres tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh mantan Presiden Joe Biden.
Tuduhan ini berpotensi merusak hubungan AS-China di saat Trump tengah fokus mengamankan kemenangan dalam pemilu paruh waktu November mendatang.
>>> Beasiswa Gerak Tumbuh 2026 Gelombang 2 Dibuka, Ini Rincian Dana dan Syaratnya
Kesepakatan dagang yang telah disepakati tahun lalu pun terancam.
