Amerika Serikat memperluas kampanye serangan udaranya terhadap Iran pada Jumat dini hari dengan menghantam lebih banyak jembatan dan merobohkan menara di sebuah pelabuhan utama Iran.
Langkah ini merupakan bagian dari ancaman Presiden AS Donald Trump untuk mulai menyerang infrastruktur guna menekan Tehran melonggarkan cengkeramannya di Selat Hormuz.
>>> Reza Arap Jadi YouTuber Pertama Pemegang Hak Siar Piala AFF 2026
Iran meluncurkan serangan rudal baru terhadap negara-negara sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Qatar yang menjadi mediator utama dalam perang.
Gencatan senjata sementara yang disepakati bulan lalu telah runtuh, dan kawasan itu mengalami serangan balasan selama beberapa hari antara AS dan Iran yang memperebutkan kendali atas selat tersebut.
Pejabat Iran mengatakan serangan AS telah menewaskan puluhan orang dan melukai ratusan lainnya, dengan korban baru dilaporkan dalam serangan Jumat.
Jembatan dan Menara Pelabuhan Jadi Sasaran
Serangan udara AS menghantam jembatan pada Jumat pagi di Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menewaskan sedikitnya tujuh orang, demikian laporan televisi pemerintah Iran.
Serangan itu menargetkan Bandar Khamir, sebuah kota di pesisir Iran di Selat Hormuz.
Serangan terhadap jembatan jalan raya dan kereta api tampaknya bertujuan memutus Bandar Abbas, pelabuhan utama Iran, dari jalan menuju wilayah tengah dan Tehran.
Meskipun rute lain masih terbuka, serangan AS dapat meluas lebih jauh, berpotensi mengganggu pergerakan material militer dan barang kebutuhan bagi 90 juta penduduk Iran.
Komando Pusat Militer AS mengatakan pihaknya menghantam puluhan sasaran dalam serangan terbaru yang berakhir pada Jumat fajar, malam keenam berturut-turut serangan Amerika.
Serangan itu juga merobohkan menara di pelabuhan Chabahar Iran di Teluk Oman, jalur perdagangan penting bagi Afghanistan yang terkurung daratan, demikian laporan kantor berita IRNA.
