Christopher Nolan mengaku menggunakan pendekatan berbeda saat mengadaptasi kisah epos klasik Odyssey untuk film terbarunya.
Ia ingin cerita ribuan tahun itu terasa segar dan lebih dekat dengan masyarakat modern.
Hasilnya, ia sukses menggapai tujuan tersebut dalam film berdurasi tiga jam kurang dua menit ini.
Naskah Lebih Linear dan Manusiawi
Mengadaptasi karya sastra Yunani Kuno dengan bahasa dan nalar yang jauh berbeda dari komunikasi modern bukan hal mudah.
Namun Nolan berhasil melewati tantangan itu tanpa kehilangan kemegahan dan kolosal kisah perjuangan prajurit Yunani Kuno.
Nolan juga membawakan kisah asli Homer yang brutal dengan lebih manusiawi untuk kadar manusia modern.
Keputusan Nolan menulis naskah lebih linear dibanding karya sebelumnya membuat kisah ribuan tahun Homer lebih mudah dimengerti.
Kekurangan pada Aspek Emosional
Meski naskah lebih manusiawi, film ini masih belum mengisi penuh relung emosi seperti ia memuaskan pandangan dan nalar penonton.
Ada sejumlah bagian cerita yang belum berkesan secara emosi, line filosofis yang terasa dibuat-buat, hingga sekuens yang gagal membuahkan momen emosional.
Nolan memberikan ruang cukup bagi setiap tokoh untuk berkembang sehingga mereka bukan pelengkap penderitaan perjalanan Odysseus.
Anne Hathaway sebagai Penelope adalah contoh paling sukses memanfaatkan ruang itu. Aktris peraih Oscar ini mengeksekusi frustrasi, kerinduan, keyakinan, dan keteguhan istri yang ditinggal suami dengan sempurna.
Tanpa banyak dialog berlebihan, Hathaway mampu menyampaikan emosi Penelope melalui ekspresi subtil tapi membekas.
Chemistry Hathaway dan Matt Damon sebagai pasangan suami-istri terasa hangat dan saling mencintai.
Namun kerinduan dan frustrasi seorang istri dibayar Nolan dengan percakapan yang jauh dari kata romantis dan menyentuh.
Bahkan line Odysseus saat menyamar kepada anaknya, Telemachus, terasa lebih berbobot emosinya dibanding dengan Penelope.
Matt Damon tampil solid sebagai prajurit Yunani Kuno, tetapi ia tidak ditempatkan pada posisi megah di pertarungan pamungkas.
Adegan puncak melawan puluhan orang adalah kesempatan tepat menunjukkan keperkasaan Odysseus, namun Nolan seolah lupa bahwa manusia bisa menjadi 'dewa' atau 'iblis' saat berjuang untuk hal yang dicintai.
Penampilan Para Aktor
Tom Holland sukses membawakan Telemachus. Ia paling cocok dengan karakter anak penguasa yang tumbuh fatherless dan harus membuktikan dirinya layak menggantikan ayahnya.
Holland membawakan kesan hangat dan polos, terutama interaksinya dengan Hathaway yang terasa seperti ibu dan anak sungguhan.
Robert Pattinson sebagai Antinous mulus menjadi sosok antagonis berkarisma dan intimidatif tanpa berakting berlebihan.
Zendaya sebagai Athena mendapat catatan. Nolan ingin memberikan jembatan logis terkait luka batin Odysseus, tetapi justru menimbulkan pertanyaan baru akan identitas Athena.
Kemegahan Visual dan Efek Praktis
Christopher Nolan yang dikenal dengan imajinasi 'logis' juga membuktikan memiliki fantasi liar dalam menggambarkan Circe, monster, hingga momen thrilling.
Keahlian teknis Nolan dalam The Odyssey tak perlu diragukan. Ia masih mempertahankan kemahirannya menyajikan pengalaman sinematik di layar lebar.
Film menggunakan kamera IMAX 70 mm yang gambarnya baru muncul utuh di 40 lokasi di dunia, bukan di Indonesia.
Meski begitu, kemegahan The Odyssey tetap terasa.
Tim desain produksi, efek, kostum, tata rias, konduktor musik Ludwig Göransson, dan sinematografer Hoyte van Hoytema sukses mewujudkan visi naskah Nolan.
Kesetiaan Nolan pada efek praktis menjadi nilai tambah. Banyak adegan terasa memiliki bobot fisik nyata karena mengandalkan lokasi sungguhan dan pencahayaan alami.
Hasilnya, dunia The Odyssey terasa lebih hidup dan membumi meski dipenuhi unsur mitologi.
Kesimpulan
The Odyssey menjadi bukti baru bahwa kisah dari peradaban masa lalu masih bisa disajikan dengan cara modern dan dapat dikonsumsi masyarakat kiwari.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah hanya Christopher Nolan yang mampu membawakan kemegahan sekaligus tragedi epos masa lalu, atau akan ada Nolan-Nolan berikutnya.