Iran pada Sabtu (8/8) mengatakan bahwa kesepakatan dengan Oman mengenai kendali Selat Hormuz hampir tercapai, tetapi belum cukup untuk membuka jalur air tersebut.
Uni Emirat Arab (UEA) juga melaporkan bahwa Iran telah menyerang kapal lain di selat tersebut.
>>> Pekerja PHK Berhak Terima JKP 60 Persen Gaji, Ini Syaratnya
Kesepakatan antara Iran dan Oman dianggap penting untuk mencapai kesepakatan yang lebih luas guna mengakhiri perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Perang itu membuat Iran memberlakukan kendali ketat atas jalur ekspor energi utama tersebut.
Negosiasi Iran-Oman
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran dan Oman "sangat dekat" untuk mencapai kesepakatan mengenai rute pelayaran baru melalui selat tersebut.
Namun, pembukaan kembali jalur itu akan bergantung pada kondisi lain, termasuk kompensasi AS kepada Iran.
Sekretaris badan keamanan nasional tertinggi Iran, Mohammad Baqer Zolqadr, menyebutkan tuntutan lain seperti mengakhiri ancaman AS terhadap Iran, menghentikan agresi terhadap Iran dan sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak, serta mencabut blokade dan sanksi.
Oman melaporkan negosiasi dengan Iran mengenai pengaturan pelayaran melalui Hormuz berjalan "positif dan konstruktif".
Oman juga mengutuk serangan berulang terhadap kapal yang melintasi selat tersebut, tanpa menyalahkan pihak tertentu.
Sikap Iran dan AS
Araqchi mengatakan skema pemisahan lalu lintas pelayaran sebelumnya melalui selat itu tidak lagi dapat diterima Tehran.
Iran sedang membahas rute sementara dengan Oman sementara masalah teknis dan hukum untuk rute permanen diselesaikan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang relatif moderat, mengatakan dia percaya sekarang adalah waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan.
"Ada kohesi, kekuatan, dan persatuan di negara ini, dan sejauh yang saya tahu, Iran dianggap menang dan kuat dalam perang ini," kata Pezeshkian seperti dikutip kantor berita Iran.
