Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un berpotensi kembali mencari pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump, kemungkinan setelah pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
Hal itu disampaikan Victor Cha, presiden departemen geopolitik dan kebijakan luar negeri sekaligus Korea Chair di Center for Strategic and International Studies (CSIS), dalam analisis yang dipublikasikan di situs CSIS, Kamis.
>>> Profil Aida S Budiman, Kandidat Deputi Gubernur Senior BI Usulan Prabowo
Analisis ini muncul di tengah spekulasi bahwa meskipun Trump terbuka untuk berdialog dengan Kim, Pyongyang mungkin kurang tertarik untuk menjalin komunikasi lagi dengan Washington.
Pasalnya, Korea Utara telah memperdalam kerja sama ekonomi, diplomatik, dan militer dengan Moskow, serta memperkuat hubungan dengan Beijing.
Menurut Cha, faktor utama yang mendorong potensi KTT baru adalah sejauh mana Kim bersikap revisionis, bukan berorientasi status quo.
Jika Kim revisionis, dia akan memanfaatkan peluang yang ada untuk memajukan tujuan inti, yaitu mengukuhkan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir.
Cha berpendapat bahwa analisis konvensional yang menganggap Kim mungkin menilai KTT dengan Trump sebagai hal yang tidak menarik dalam lingkungan geopolitik saat ini, mengabaikan apakah revisionisme yang mendorong pola pikir kebijakan luar negeri Korea Utara.
Sebagai contoh revisionisme, Cha menyebut keputusan Korea Utara untuk memperdalam kerja sama dengan Rusia setelah pandemi COVID-19, berbeda dari perkiraan bahwa mereka akan fokus memulihkan perdagangan dengan China.
Jika Kim mengadopsi sikap revisionis, dia mungkin menargetkan pertemuan dengan Trump, kemungkinan setelah pemilu paruh waktu November, untuk menegaskan kembali prinsip-prinsip dasar deklarasi bersejarah dari pertemuan pertama mereka di Singapura pada Juni 2018.
>>> Profil Elryan Carlen, Aktor yang Ngaku Dipukul Eza Gionino
