Awan duka kembali menyelimuti langit industri kreatif Tanah Air. Indonesia baru saja kehilangan salah satu putra terbaiknya yang memiliki peran vital dalam membentuk wajah visual musik nasional. Eugene Panji, sutradara videoklip kondang yang namanya lekat dengan era keemasan musik Indonesia tahun 2000-an, telah berpulang ke rahmatullah.
Almarhum menghembuskan napas terakhirnya pada Senin, 25 Agustus 2026, di RS Siloam Puri Cinere, Depok. Mengembuskan napas di usia 52 tahun, kepergian Eugene meninggalkan lubang besar bagi para musisi, rekan sejawat, dan penikmat musik yang tumbuh bersama karya-karya visualnya. Hingga artikel ini diturunkan, pihak keluarga dan rumah sakit belum merilis keterangan resmi mengenai penyebab kepulangan sang sutradara.
Lebih dari Sekadar Promosi: Filosofi Visual Eugene
Bagi mereka yang mengikuti perkembangan MTV Indonesia atau acara musik televisi di era 2000-an, nama Eugene Panji bukan sekadar nama di credit title. Ia adalah arsitek visual yang menerjemahkan rasa dari sebuah lagu menjadi imaji yang tak terlupakan.
Eugene dikenal sebagai sosok yang perfeksionis namun visioner. Ia tidak pernah memandang videoklip sebagai sekadar alat pemasaran atau pelengkap promo album. Baginya, visual adalah nyawa kedua dari sebuah audio.
Dalam sebuah kesempatan yang dilansir dari unggahan Instagram @amiawards, Eugene pernah menegaskan filosofinya yang mendalam terhadap industri ini.
“Tapi (videoklip) juga menjadi ruang suara bagi musisi untuk memperkuat lagu dan musiknya mereka sendiri,” ujar Eugene kala itu.
Pernyataan ini menjadi fondasi bagi banyak karya ikonik yang lahir dari tangannya. Eugene memahami bahwa di era di mana perhatian audiens mulai terbagi, sebuah videoklip yang kuat mampu mengunci ingatan pendengar terhadap sebuah lagu selamanya.
Banjir Air Mata dan Kenangan dari Sahabat Sejawat
Kabar kepergian Eugene memicu gelombang kesedihan di media sosial. Para musisi yang pernah bersilang karya dengannya, mulai dari legenda pop hingga rocker alternatif, menumpahkan duka cita mereka. Bagi mereka, Eugene bukan hanya rekan kerja, melainkan sahabat dan inspirator.
Pongki Barata, salah satu musisi yang banyak berkolaborasi dengan Eugene, mengenang momen-momen krusial dalam kariernya yang tidak lepas dari sentuhan tangan dingin sang sutradara. Pongki menyoroti bagaimana Eugene menangani karya-karya besar, mulai dari lagu yang melambungkan nama Jikustik hingga sang legenda, Chrisye.
“@eugenepanji cepat sekali dirimu berpulang. Terima kasih sudah turut bersilang karya dengan saya selama hidupmu. Music video pertama saya (bersama Jikustik di tahun 2000 - MAAF), lalu Seperti Yang Kau Minta – alm Chrisye. Semua music video itu kamu buat dengan sepenuh hati,” tulis Pongki dengan penuh haru.
“Saya percaya, Tuhan memeluk Panji dan memberi kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Selamat jalan Eugene Panji,” tambahnya.
Sementara itu, Jimi Multhazam dari The Upstairs mengenang Eugene dengan sapaan akrab yang mencerminkan kedekatan personal mereka. Panggilan "Panji Cilik" dan kenangan terakhir mereka di sebuah pergelaran fashion show menjadi momen yang begitu hidup dalam ingatan Jimi.
“Selamat jalan Panji Cilik. Begitu kami di kampus menyapa @eugenepanji Sutradara besar. Kawan baik. Obrolan dan gerakannya selalu menginspirasi. Kita berjumpa terakhir di pagelaran fashion anaknya, Sade. Seperti biasa obrolan kita selalu seru dan menggugah. Doa terbaik bagimu selalu,” kenang Jimi.
Duka cita juga datang dari Marky ‘rumahsakit’ dan David Bayu. Marky mengenang Eugene dengan memutar ulang lagu "Apa Yang Tak Bisa", sementara David Bayu mengungkapkan kesedihan yang mendalam karena kehilangan teman kost yang sebentar lagi akan merayakan ulang tahun bersamanya.
“Sekarang lo ketemu malaikat-malaikat kecil lain di sana brader 👼🏻👼🏻🕊️🕊️ I play this once again for you brad…,” tulis Marky.
Warisan Visual: Mengenang "Piknik '72" dan Era Para Nelayan
Untuk mengenang jasa-jasanya, mari kita menengok kembali salah satu mahakarya Eugene yang hingga kini masih sering diputar dan menjadi referensi visual bagi banyak sineas muda: videoklip "Piknik ‘72" dari NAIF.
Dilansir dari arsip kanal YouTube resmi, videoklip ini diambil pada tahun 1999 di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Pada masa itu, Eugene masih berkarya di bawah bendera production house legendaris bernama Para Nelayan. Kolaborasi Eugene bersama Syauqi Tuasikal, Dandy, dan Indra Ameng di PH ini melahirkan banyak standar baru visual musik indie dan alternatif di Jakarta.
Dalam "Piknik ‘72", Eugene berhasil menangkap esensi quirky dan unik dari NAIF. Dengan bintang tamu Anggun Priambodo, video ini tidak hanya menjual lagu, tetapi menjual lifestyle dan estetika yang timeless. Warna-warna yang pop, setting yang surealis, dan storytelling yang tidak bertele-tele menjadi ciri khas yang membuat karya Eugene selalu dinantikan di setiap rilisnya.
Selamat Jalan, Sang Pionir
Kepergian Eugene Panji di tahun 2026 ini menutup satu babak penting sejarah musik video Indonesia. Ia adalah saksi dan pelaku transisi dari era video musik berbasis performa menuju era video musik yang naratif dan sinematik.
Meskipun raga telah tiada, karya-karyanya akan terus "hidup" setiap kali kita memutar ulang lagu-lagu favorit di tahun 2000-an. Setiap frame yang ia ciptakan adalah bukti bahwa ia mencintai musik sama besarnya dengan kita yang mendengarkannya.
Selamat jalan, Eugene Panji. Terima kasih telah membuat lagu-lagu Indonesia menjadi lebih indah untuk dilihat.