Bencana alam berskala masif mengguncang kawasan Himalaya. Tim penyelamat kini tengah berlomba dengan waktu untuk mencari lebih dari 1.300 orang yang hilang di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet. Banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu oleh runtuhnya gletser ini tidak hanya menelan sedikitnya 165 korban jiwa, tetapi juga menyapu bersih puluhan permukiman dan desa di sepanjang jalur sungai.
Para pejabat setempat mengonfirmasi bahwa mayoritas korban yang hilang adalah wisatawan asing yang sedang menikmati keindahan pegunungan tertinggi di dunia tersebut.
Berdasarkan data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), bencana mengerikan ini berawal dari runtuhnya dinding gletser. Runtuhnya es raksasa tersebut melepaskan aliran puing dan lumpur dalam volume masif yang menelan segala sesuatu di jalurnya.
Gemuruh Maut dan 'Tsunami Daratan'
Dampak dari bencana ini sangatlah destruktif. Gemuruh air bercampur lumpur pekat yang menyerupai tsunami menghantam desa-desa dan kota-kota kecil yang berada di sepanjang jalur dua sungai utama, yakni Sungai Bhote Koshi dan Trishuli. Kepolisian Nepal hingga Kamis (27/8/2026) mencatat setidaknya 162 jenazah telah berhasil dievakuasi dari timbunan lumpur.
Sejarawan lingkungan dari Universitas La Trobe, Australia, Ruth Gamble, mendeskripsikan kejadian ini dengan istilah yang mengerikan.
"Gelombang lumpur dan puing-puing yang tiba-tiba itu layaknya tsunami daratan. Alirannya bergerak sangat cepat, menyusuri hampir 170 kilometer lembah Bhote Koshi hingga ke wilayah Nepal Tengah," ungkap Gamble.
Tragedi Global: Turis dari Berbagai Negara Terjebak
Skala bencana ini menjadikannya sebagai tragedi global. Dewan Pariwisata Nepal mengonfirmasi bahwa warga negara asing dari berbagai belahan dunia kehilangan kontak dengan keluarga mereka. Negara-negara tersebut meliputi India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.
Salah satu kelompok yang paling menjadi sorotan adalah rombongan dari perusahaan pendakian Himalayan Glacier. Direktur perusahaan tersebut, Sanket Pandey, mengungkapkan kekhawatiran mendalam atas nasib 47 kliennya.
"Tim kami saat ini sedang berkeliling dan memeriksa berbagai rumah sakit serta pusat evakuasi untuk melacak jejak para korban yang mungkin selamat," kata Pandey kepada AFP, Kamis (27/8/2026). Rombongan yang hilang tersebut mencakup orang dewasa dan dua orang anak-anak.