unique visitors counter
⌂ Beranda News Perang Iran Ubah Timur Tengah, tapi Tak Sesuai Harapan AS dan Israel
News

Perang Iran Ubah Timur Tengah, tapi Tak Sesuai Harapan AS dan Israel

Perang Iran Ubah Timur Tengah, tapi Tak Sesuai Harapan AS dan Israel
Perang Iran Ubah Timur Tengah, tapi Tak Sesuai Harapan AS dan Israel
A A Ukuran Teks16px

Enam bulan telah berlalu sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran dengan tujuan lama untuk mengubah Timur Tengah melalui kekuatan militer.

Kawasan ini memang berubah, tetapi tidak seperti yang mereka harapkan.

>>> Perang Trump dengan Iran Sudah 6 Bulan, Padahal Dijanjikan Hanya Beberapa Minggu

Republik Islam Iran selamat dari pembunuhan para pemimpin tertingginya dan berminggu-minggu pemboman berat. Iran justru menemukan bentuk pengaruh yang kuat di Selat Hormuz.

Negara-negara Arab Teluk melihat celah yang mengkhawatirkan dalam payung keamanan Amerika yang selama ini mereka andalkan selama beberapa dekade.

Sebagian dari mereka mulai mencari alternatif.

Israel sekali lagi menghantam musuh-musuhnya tanpa mengalahkan mereka.

Setelah hampir tiga tahun perang di Gaza dan perebutan tanah baru, Israel berisiko mengalami perpecahan generasional dengan AS, sekutu terdekatnya.

Harapan normalisasi hubungan dengan Arab Saudi, yang juga menjadi aspirasi lama AS dan Israel, semakin memudar.

Iran Bertahan dan Semakin Kuat

Ketika menyerang Iran pada 28 Februari, AS dan Israel berharap dapat meruntuhkan kepemimpinan ulama dan menggantinya dengan pemerintahan yang pro-Barat.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Barbara Leaf, mantan duta besar yang menjabat asisten menteri luar negeri untuk Timur Tengah pada pemerintahan Biden, mengatakan bahwa yang muncul adalah 'rezim yang mengeras dan sangat radikal'.

Menurut Leaf, rezim itu akan sangat sulit untuk dihadapi.

'Kepercayaan diri Iran telah tumbuh selama berbulan-bulan bahwa mereka tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga bisa menang dan membentuk kembali lanskap regional,' ujarnya.

Sebelum perang, Iran tampak lebih rentan daripada sebelumnya sejak invasi Irak pimpinan Saddam Hussein pada 1980.

Mata uang Iran jatuh, memicu protes anti-pemerintah terbesar dalam sejarah, yang ditindas secara brutal pada Januari dengan ribuan orang tewas.

📰 Update Terbaru