Suasana malam di kompleks hunian baru warga relokasi Senen mendadak riuh namun penuh haru. Di tengah udara malam yang sejuk, Presiden Prabowo Subianto menyapa ratusan warga yang kini telah menempati kehidupan baru, jauh dari hiruk-pikuk dan bahaya rel kereta api.
Kunjungan kenegaraan yang bernuansa kekeluargaan ini berlangsung pada Jumat malam (28/8/2026). Momen ini menjadi penutup pekan yang hangat bagi Kepala Negara, sekaligus menjadi puncak kebahagiaan bagi warga yang sebelumnya belasan tahun berjuang hidup di bantaran rel kawasan Stasiun Senen, Jakarta.
Kejutan Manis di Malam Hari
Berdasarkan keterangan resmi dari Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya, kunjungan ini dilakukan secara spontan dan penuh keakraban. Presiden Prabowo menyempatkan diri mampir ke hunian baru warga tersebut tepat selepas menyelesaikan rangkaian kegiatan kantornya di Istana Merdeka, Jakarta.
“Selepas menyelesaikan kegiatan kantor di Istana Merdeka, malam ini Presiden Prabowo menemui warga di hunian barunya. Warga yang sebelumnya telah belasan tahun tinggal di pinggir rel kereta api Stasiun Senen, Jakarta,” ujar Seskab dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (29/8/2026).
Kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini sontak disambut dengan antusiasme luar biasa. Video dokumentasi yang beredar memperlihatkan wajah-wajah sumringah warga yang tak mampu menyembunyikan rasa haru mereka. Mereka berebut mendekat, menyapa, dan memeluk erat sang Presiden.
“Pak, Bapaaaak… Bapak Prabowo… Sehat Pak. Makasih banyak, Bapak,” seru sejumlah warga bersahut-sahutan, mengiringi setiap langkah Presiden Prabowo yang berjalan menyusuri lorong-lorong hunian baru mereka.
Mengakhiri Belasan Tahun di Pinggir Rel Kereta
Bagi warga relokasi Senen, hunian baru ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah harapan akan masa depan yang lebih manusiawi. Sebelum direlokasi, mereka harus bertahan hidup di lingkungan yang jauh dari kata layak. Tinggal di bantaran rel kereta api Stasiun Senen berarti berhadapan dengan polusi suara yang memekakkan telinga setiap harinya, sanitasi yang buruk, serta ancaman keselamatan jiwa yang mengintai setiap saat ketika kereta melintas.