Perum Bulog terus memperkuat ketahanan pangan di Indonesia, khususnya di wilayah perbatasan Kepulauan Riau (Kepri).
Pada usia ke-59, perusahaan pelat merah ini fokus pada pembangunan infrastruktur pascapanen dan distribusi pangan.
Bulog baru saja merayakan HUT ke-59 pada 10 Mei 2026 dengan tema "Mengawal Pangan, Menjaga Masa Depan".
Perayaan ini terasa istimewa karena Bulog mencatat sejarah baru dalam pengelolaan cadangan beras pemerintah (CBP) yang mencapai 5,3 juta ton, meningkat dari 4,2 juta ton pada 2025.
Capaian tersebut menjadi wujud nyata dukungan Bulog terhadap program swasembada pangan nasional yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Gudang Baru di Wilayah 3T
Bulog terus memperluas distribusi program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di Kepri.
Penambahan gudang baru dilakukan secara bertahap mulai 2026.
Kepala Bulog Cabang Tanjungpinang Arief Alhadihaq mengatakan gudang baru akan dibangun di lima titik. Lokasinya tersebar di Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas, dan Kabupaten Lingga.
Di Natuna, Bulog akan menambah tiga gudang baru di Pulau Laut, Midai, dan Serasan dengan kapasitas masing-masing 1.000 ton.
Saat ini, Natuna telah memiliki dua gudang Bulog di Ranai dan Sedanau dengan kapasitas masing-masing 1.000 ton.
Sementara itu, di Kepulauan Anambas akan dibangun satu gudang tambahan di Pulau Jemaja berkapasitas 1.000 ton.
Kawasan tersebut baru memiliki satu gudang Bulog di Tarempa dengan kapasitas serupa.
Adapun di Lingga, Bulog akan membangun satu gudang di Pulau Dabok berkapasitas 1.000 ton, dengan target realisasi pada 2027.
Untuk wilayah lain seperti Kota Batam dan Pulau Bintan yang meliputi Kota Tanjungpinang serta Kabupaten Bintan, masing-masing sudah memiliki gudang Bulog berkapasitas 2.000 hingga 3.500 ton.
Kapasitas tersebut dinilai cukup memenuhi kebutuhan beras masyarakat.
Sementara di Kabupaten Karimun, Bulog masih menyewa gudang berkapasitas 800 ton. Dalam waktu dekat, pemerintah pusat akan membangun gudang permanen berkapasitas 2.000 ton di wilayah tersebut.
Pembangunan gudang baru Bulog di kawasan hinterland Kepri didanai melalui APBN. Pemerintah daerah menyiapkan hibah lahan untuk mendukung proyek ini.
Tak hanya membangun pergudangan, Bulog juga menyiapkan kompleks yang dilengkapi kantor, rumah dinas, musala, serta memberdayakan warga sekitar untuk aktivitas bongkar muat beras.
Tantangan Geografis dan Distribusi
Penambahan lima gudang baru di wilayah Kepri dipengaruhi kondisi geografis antarpulau yang memiliki rentang kendali jauh.
Hal ini memicu tingginya biaya distribusi beras, belum lagi faktor cuaca yang kerap tidak menentu.
Sebagai contoh, perjalanan laut dari Ranai, ibu kota Natuna, menuju Pulau Laut —salah satu kecamatan di Natuna— memakan waktu sekitar enam jam.
Keberadaan gudang baru diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan di wilayah 3T melalui pasokan cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog.
Dengan begitu, beras medium berharga terjangkau dapat menjangkau wilayah yang belum maupun yang sudah tersentuh program SPHP, tetapi masih menghadapi harga lebih tinggi akibat jalur distribusi yang panjang.
Selain itu, Bulog juga dapat memasok beras lebih awal untuk mengantisipasi musim angin utara yang kerap memicu gelombang hingga empat meter.
Kondisi ini berpotensi menghambat pengiriman beras ke pulau-pulau terluar.
Dengan 2.408 pulau dan 394 di antaranya berpenghuni, Kepri memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga ketahanan pangan.
Selain bukan daerah penghasil pertanian, distribusi bahan pokok antarpulau juga menghadapi biaya logistik yang relatif tinggi melalui jalur laut.
Karena itu, kehadiran Bulog sangat dibutuhkan masyarakat perbatasan untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas pasokan pangan tetap terjaga.
Bulog juga bersinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dalam memperkuat program Asta Cita Presiden RI di sektor ketahanan pangan.
Sinergi ini menjadi bagian dari transformasi bisnis Bulog melalui pembangunan infrastruktur pascapanen guna memperkuat ketahanan pangan nasional dari Sabang hingga Merauke.