Kabar baik bagi dapur rumah tangga Indonesia: Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut inflasi beras pada September 2026 tercatat 3,73 persen, terendah dalam empat tahun terakhir.
Angka itu jauh di bawah inflasi beras September 2023 yang sempat mencapai 18,44 persen akibat El Nino. Inflasi kemudian turun menjadi 5,91 persen pada September 2024 dan 4,06 persen pada September 2025, sebelum kembali melandai tahun ini.
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaitkan capaian tersebut dengan penguatan cadangan beras pemerintah (CBP) dan penyaluran beras kepada masyarakat. Sejak Januari hingga 28 Oktober 2026, penyaluran CBP melalui Perum Bulog telah mencapai 2,88 juta ton.
Tanpa Impor Beras Medium
Amran menegaskan pemerintah tidak mengimpor beras medium. Impor hanya dilakukan untuk beras khusus yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti Basmati, dalam jumlah yang sangat terbatas.
Stok beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 4,5 juta ton. Jika ditambah potensi panen dari tanaman padi yang masih berdiri di lahan sekitar 10 juta ton serta persediaan di masyarakat dan sektor usaha sekitar 10 juta ton, total pasokan diperkirakan mencapai 25 juta ton.
Dengan konsumsi nasional sekitar 2,5 juta ton per bulan, pasokan itu dinilai cukup untuk sekitar 10 bulan ke depan, hingga Juli 2027. Pemerintah juga menyiapkan alokasi tambahan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar 1 juta ton untuk menjaga keterjangkauan harga.
Bantuan Pangan untuk 33 Juta Keluarga
Program bantuan pangan beras dirancang untuk 33,24 juta keluarga. Alokasi bantuan pangan beras mencapai 997 ribu ton hingga akhir 2026, dan penyaluran periode Oktober-Desember 2026 menyasar 33,2 juta penerima dengan jatah 10 kilogram per bulan.
Amran berharap total penyaluran CBP hingga akhir tahun mendekati 4 juta ton, yang disebut sebagai angka tertinggi dalam sejarah. Bagi masyarakat, yang terpenting dari semua angka itu adalah satu hal: harga beras di pasar tetap stabil dan mudah dijangkau.