Aksi jual saham teknologi kembali berlanjut di Wall Street dan pasar Asia pada Kamis.
Pemicunya adalah data inflasi Amerika Serikat yang melampaui perkiraan dan memunculkan kekhawatiran The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga lagi.
Analis pasar di Trade Nation, David Morrison, menyebut aksi jual saham teknologi masih berlangsung. Menurut dia, saham chip kembali berada di garis depan gelombang pengurangan risiko.
Saham raksasa chip AI Nvidia turun 2,2 persen. Pesaingnya, AMD dan Marvell, masing-masing melemah sekitar empat persen pada perdagangan pagi di New York.
Saham perusahaan infrastruktur pusat data AI, CoreWeave, turun 3,6 persen setelah anjlok 15,5 persen pada Rabu.
CoreWeave merupakan klien besar chip Nvidia, dan Nvidia adalah pemegang saham utama perusahaan itu.
Indeks Nasdaq Composite yang paling terpapar saham teknologi melemah 0,3 persen. Namun, indeks Dow yang berisi saham unggulan justru menguat.
Analis IG, Axel Rudolph, menilai rotasi dari infrastruktur AI yang sangat spekulatif ke sektor mapan membantu Dow naik lebih dari setengah persen.
Seoul dan Tokyo Paling Terdampak
Pasar saham Eropa lebih tangguh karena paparan terhadap sektor teknologi lebih rendah.
Seoul dan Tokyo menanggung beban terberat di Asia saat pedagang melepas saham pembuat chip, mengikuti kerugian tajam di Wall Street pada Rabu.
Kospi Seoul anjlok lebih dari delapan persen hingga memicu penghentian perdagangan sementara, sebelum sedikit memangkas kerugian.
Saham SK hynix tenggelam lebih dari 11 persen dan Samsung lebih dari sembilan persen.
Tokyo turun hampir lima persen, terdorong penurunan tajam saham Advantest, Kioxia, dan raksasa investasi SoftBank.
Kepala pasar di AJ Bell, Dan Coatsworth, mengatakan aksi jual teknologi berlanjut dengan cepat. Data inflasi AS memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga AS bulan ini.
Imbal hasil obligasi Treasury AS turun, menandakan investor beralih ke aset yang dianggap berisiko lebih rendah.
Pasar yang sudah bergulat dengan kekhawatiran soal prospek ledakan investasi AI terpukul setelah data Rabu menunjukkan indeks harga konsumen AS naik lebih dari perkiraan menjadi 3,7 persen pada September.
Data Kamis menunjukkan inflasi grosir AS melonjak melampaui ekspektasi analis pada September, yakni kenaikan 6,3 persen dari setahun lalu.
Itu menjadi lonjakan tahunan terbesar sejak 2022 seiring harga bensin melonjak akibat perang dengan Iran.
Angka inflasi itu menekan The Fed untuk menaikkan suku bunga setidaknya sekali lagi setelah kenaikan September. Keputusan bank sentral dijadwalkan pada 28 Oktober, sepekan sebelum pemilihan sela AS.
Perusahaan teknologi sangat bergantung pada pinjaman untuk membiayai investasi AI mereka yang besar. Karena itu, mereka sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga.
Strategi investor Saxo UK, Neil Wilson, menunjuk kekhawatiran soal pembangunan AI, valuasi yang menggelembung, pertumbuhan laba yang lebih rendah dari perkiraan di laboratorium terdepan AS, dan persaingan China sebagai faktor tambahan di balik aksi jual teknologi.