unique visitors counter
⌂ Beranda › News › BI Optimistis Rupiah Menguat Mulai Juli 2026 Seiring Penurunan Permintaan Valas
News

BI Optimistis Rupiah Menguat Mulai Juli 2026 Seiring Penurunan Permintaan Valas

Gubernur BI Perry Warjiyo memberi penjelasan dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI
A A Ukuran Teks16px

Bank Indonesia (BI) meyakini nilai tukar rupiah akan menguat mulai Juli 2026.

Hal ini sejalan dengan meredanya tren permintaan valuta asing (valas) musiman yang meningkat pada periode April hingga Juni.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan keyakinan tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini bersifat sementara.

"Sekali lagi, kami tegaskan bahwa kami meyakini bahwa rupiah ke depan akan menguat.

Sekarang ini dalam tekanan, undervalue, karena faktor global dan faktor seasonal demand pada April, Mei, Juni, dan insya Allah nanti Juli akan menguat," kata Perry.

Faktor Musiman dan Global Tekan Rupiah

Kebutuhan dolar AS meningkat secara musiman pada April-Juni. Penyebabnya antara lain pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta kebutuhan ibadah haji.

Selain faktor domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi global. Perry menjelaskan bahwa situasi geopolitik global memburuk sejak pecahnya perang di Timur Tengah pada Februari lalu.

Meningkatnya risiko geopolitik tecermin dari kenaikan credit default swap (CDS), lonjakan harga minyak dunia, serta tingginya inflasi di AS.

Hal ini membuat peluang penurunan suku bunga The Fed semakin kecil.

Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury, baik tenor jangka pendek maupun panjang.

Akibatnya, dolar AS menguat dan terjadi arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Aliran Modal Mulai Masuk Kembali

Dari sisi arus modal, pasar saham mencatat outflow Rp26,06 triliun pada Januari-Maret 2026.

Sementara itu, pasar Surat Berharga Negara (SBN) mengalami outflow Rp25,1 triliun pada periode yang sama.

Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sempat mencatat inflow pada Januari dan Februari. Namun, pada Maret berbalik mengalami outflow seiring meningkatnya tensi geopolitik global.

Untuk menjaga daya tarik aliran modal masuk, BI meningkatkan suku bunga SRBI.

Hasilnya, instrumen tersebut kembali mencatat inflow Rp48,26 triliun pada April dan Rp27,05 triliun pada Mei.

Total inflow SRBI sepanjang April hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp75,31 triliun. Secara kumulatif sepanjang tahun berjalan (ytd), angkanya mencapai Rp105,16 triliun.

Perry juga mengungkapkan bahwa pembelian SBN oleh investor asing mulai meningkat.

Aliran dana asing di pasar saham juga mulai mencatat inflow pada awal Mei, meski secara tahun berjalan masih mengalami outflow.

Menurutnya, aliran modal masuk tersebut membantu memperkuat pasokan valas domestik. Hal ini terjadi di tengah tingginya permintaan dolar AS akibat faktor global dan musiman.

Intervensi Diperkirakan Menurun

Perry memperkirakan kebutuhan intervensi akan menurun mulai Juli hingga Agustus. Penurunan ini seiring meredanya permintaan valas musiman.

"Alhamdulillah Rp67,3 triliun itu inflow (total seluruh instrumen dari Januari-8 Mei 2026), sehingga itu menambah pasokan valas.

Memang masih kurang karena demand-nya sedang tinggi dan faktor global, sehingga kami intervensi.

Insya Allah nanti Juli-Agustus demand-nya sudah mulai agak menurun, itu bisa kita bisa kemudian intervensi tidak terlalu besar," kata Perry.

Meski demikian, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (18/5/2026) melemah menjadi Rp17.668 per dolar AS.

Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.597 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI pada hari yang sama juga melemah ke Rp17.666 per dolar AS.

Sebelumnya, JISDOR berada di level Rp17.496 per dolar AS.

Perry meyakini bahwa rerata nilai tukar rupiah sepanjang 2026 berada dalam kisaran asumsi makro APBN.

Kisaran tersebut adalah Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp16.500 per dolar AS.

Sementara itu, rerata nilai tukar rupiah secara year to date (ytd) berada pada kisaran Rp16.900 per dolar AS.

Bank sentral optimistis penguatan rupiah pada Juli dan Agustus akan menurunkan rerata tahunan kembali ke rentang target APBN.

Perry juga menyebutkan bahwa total inflow seluruh instrumen dari Januari hingga 8 Mei 2026 mencapai Rp67,3 triliun.

Aliran dana ini menambah pasokan valas domestik meskipun masih belum mencukupi karena tingginya permintaan. Ia optimistis intervensi BI akan berkurang signifikan pada Juli-Agustus seiring meredanya permintaan valas musiman.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru