unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Efek Rupiah: RI Sulit Tiru Malaysia Turunkan Harga BBM Nonsubsidi
News

Efek Rupiah: RI Sulit Tiru Malaysia Turunkan Harga BBM Nonsubsidi

Efek Rupiah: RI Sulit Tiru Malaysia Turunkan Harga BBM Nonsubsidi
Ilustrasi petugas SPBU Pertamina mengisi bahan bakar kendaraan. • KLY/Liputan6
A A Ukuran Teks16px

Malaysia kembali menurunkan harga BBM nonsubsidi pekan ini, sementara harga di Indonesia masih ditahan. Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai perbedaan itu bukan semata soal kemauan, melainkan soal kurs: rupiah yang masih di kisaran Rp18.000-an per dolar AS menggerus penghematan harga minyak dunia.

Minyak mentah dunia memang sedang turun ke bawah US$100 per barel, dan kurs acuan JISDOR berada di sekitar Rp18.094 per dolar AS. Namun menurut Syafruddin Karimi, penghematan dari harga internasional dalam dolar akan tergerus begitu dikonversi ke rupiah. Harga beli BBM domestik, katanya, sangat dipengaruhi nilai tukar.

Malaysia Mingguan, Indonesia Bulanan

Perbedaan mekanisme menjadi kunci. Malaysia memakai penetapan harga mingguan melalui Automatic Pricing Mechanism (APM), yang cepat menangkap perubahan biaya produk olahan di kawasan. Indonesia, sebaliknya, menetapkan harga secara bulanan, sehingga respons terhadap penurunan harga regional berjalan lebih lambat.

Dalam keterangan pers pada Kamis (5/11/2026), Kementerian Keuangan Malaysia menyebut pasar minyak regional sedang melandai, dengan Brent turun di akhir periode perhitungan, meski ketidakpastian geopolitik Asia Barat tetap menjadi risiko. Untuk periode 5–11 November 2026, Malaysia menurunkan RON97 sebesar 20 sen menjadi RM4,70 per liter, diesel nonsubsidi turun 15 sen menjadi RM5,12 per liter, dan RON95 nonsubsidi turun 15 sen menjadi RM4,27 per liter dari sebelumnya RM4,42.

Berapa Jika Indonesia Ikut Menurunkan?

Syafruddin menghitung, apabila Indonesia menurunkan harga 2–3 persen sebagaimana Malaysia, Pertamax bisa berada di kisaran Rp15.470 sampai Rp15.630 per liter. Saat ini harga BBM Pertamina untuk November 2026 masih mengikuti ketetapan awal September 2026: Pertalite Rp10.000, Biosolar Rp6.800, Pertamax Rp15.950, Pertamax Turbo Rp19.600, Pertamax Green 95 Rp19.150, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter.

Sinyal penurunan sebenarnya tidak hanya datang dari Malaysia. Harga BBM di Singapura juga melandai seiring naiknya stok bensin dan solar, sehingga terbuka ruang untuk mengevaluasi harga BBM nonsubsidi Indonesia yang sudah ditahan sejak bulan lalu.

Usulan Transparansi dan Sikap Pemerintah

Syafruddin menyarankan pemerintah dan badan usaha menguji rata-rata biaya pengadaan selama beberapa pekan, memisahkan perhitungan menurut jenis produk, lalu mengumumkan hasilnya secara transparan sebelum menetapkan harga baru. Dasar perhitungan perlu dibuka ke publik, dan penyesuaian harga harus berlaku dua arah — turun saat biaya turun, naik saat biaya naik.

Dari sisi pemerintah, Dirjen Migas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan di kantor Kementerian ESDM, Senin (2/11/2026), bahwa penahanan harga merupakan hasil evaluasi dinamika global dan kondisi dalam negeri. Ia menyebut parameter penentuan harga sangat banyak, tanpa merinci satu per satu.

Ruang Evaluasi Masih Terbuka

Dengan harga BBM nonsubsidi yang sudah ditahan sejak bulan lalu dan harga regional yang melandai, bola kini berada di tangan pemerintah untuk memutuskan apakah evaluasi harga akan dilakukan pada periode penetapan berikutnya. Faktor penentunya bukan hanya harga minyak mentah yang sudah di bawah US$100 per barel, melainkan juga perkembangan kurs rupiah dalam beberapa pekan ke depan.

Selama rupiah bertahan di kisaran Rp18.000-an per dolar AS, ruang penurunan harga akan tetap sempit, sebagaimana dijelaskan Syafruddin. Sebaliknya, penguatan rupiah yang berarti akan membuka ruang yang lebih lebar untuk meniru langkah Malaysia menurunkan harga BBM nonsubsidi.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru