Satu edisi majalah bisnis merangkum tiga kegelisahan ekonomi Indonesia sekaligus: El Niño yang diperkirakan menelan kerugian lebih dari Rp120 triliun, pertumbuhan di atas 5 persen yang ternyata tidak dinikmati merata, dan kesepian warga kota yang berubah menjadi peluang ekonomi baru.
Rangkuman itu termuat dalam laporan majalah Bloomberg Businessweek Indonesia edisi Oktober 2026. Edisi tersebut mengulas bagaimana ancaman iklim, ketimpangan kesejahteraan, dan perubahan gaya hidup perkotaan saling berkelindan membentuk wajah ekonomi Indonesia saat ini.
Kerugian El Niño Bisa Lampaui Rp120 Triliun
El Niño tahun ini diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat. Kerugian yang ditimbulkannya diperkirakan melampaui Rp120 triliun. Kebakaran hutan dan lahan sulit diatasi karena musim kemarau yang panjang, kekeringan berdampak pada kegiatan industri, dan risiko gagal panen mengancam sektor pertanian. Di luar itu, ada pula biaya kesehatan yang muncul dalam jangka pendek maupun panjang.
Dampak El Niño diramal berlangsung hingga Maret 2027. Beban ini datang pada saat yang kurang bersahabat: ekonomi Indonesia sudah menghadapi krisis harga energi akibat dinamika geopolitik serta suku bunga tinggi di tingkat global.
Kue Pertumbuhan yang Tak Terbagi Rata
Laporan yang sama menyoroti sisi lain ekonomi: pertumbuhan di atas 5 persen yang dibanggakan setahun terakhir ternyata hanya dinikmati segelintir kelompok. Analisis Growth Incidence Curve dari kajian SMERU, ILO, Bappenas, dan Universitas Prasetiya Mulya menunjukkan bahwa pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo, kelompok terkaya menjadi pihak yang paling menikmati pertumbuhan kesejahteraan. Sebaliknya, kelas menengah merasakan bagian yang paling pahit — temuan yang membantu menjelaskan fenomena yang kerap disebut vibecession, yakni rasa ekonomi sedang sulit meski angka pertumbuhan terlihat baik.
Laporan itu juga mengutip data Bank Dunia yang menyebut penduduk miskin Indonesia pada 2021 mencapai 116,8 juta orang atau 68,5 persen populasi. Perlu dicatat, ukuran kemiskinan yang dipakai dalam angka tersebut tidak dirinci dalam laporan dan angka itu bukan angka kemiskinan resmi, sehingga tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan statistik kemiskinan pemerintah.
Dari Feedlot yang Gulung Tikar hingga Kesepian Urban
Di sektor peternakan, usaha penggemukan sapi atau feedlot kehilangan daya tariknya. Banyak pelaku usaha gulung tikar atau mengurangi ekspansi karena harga bakalan dan pakan yang mahal tidak sebanding dengan batas harga jual, sehingga keuntungan menipis bahkan berubah menjadi kerugian. Kondisi ini berkaitan dengan harapan agar industri sapi lokal mampu menopang program Makan Bergizi Gratis dan mengurangi ketergantungan pada impor daging.
Sementara itu, edisi yang sama mengangkat kesepian warga kota sebagai fenomena sosial-ekonomi sekaligus peluang ekonomi baru, antara lain lewat layanan pendampingan seperti Anjangsana dan berbagai kegiatan komunitas yang mempertemukan orang-orang yang kesepian di tengah keramaian kota.
Rangkaian Beban yang Saling Menguatkan
Bila ketiga tema itu dibaca sebagai satu rangkaian, gambarannya menjadi lebih utuh. Di satu sisi, El Niño mengancam dari sisi produksi: panen terancam, industri kekurangan air, dan kebakaran lahan menelan biaya besar. Di sisi lain, daya beli masyarakat — terutama kelas menengah yang paling terjepit dalam distribusi pertumbuhan — belum tentu cukup kuat menanggung kenaikan harga yang mungkin muncul akibat gangguan pasokan tersebut.
Di tengah tekanan itu, munculnya ekonomi pendamping bagi warga kota yang kesepian menunjukkan bagaimana kebutuhan sosial pun bisa berubah menjadi pasar. Laporan edisi Oktober 2026 itu pada akhirnya mengajak pembaca melihat ekonomi bukan hanya dari angka pertumbuhan, melainkan dari siapa yang menanggung biayanya dan siapa yang menikmati hasilnya.