Kumpulan cerpen Kim Choyeop, 'If We Cannot Go at the Speed of Light', telah terjual lebih dari 400.000 eksemplar di Korea Selatan.
Di China, buku ini meraih Gold Award dalam kategori karya terjemahan di China Nebula Awards ke-14, penghargaan fiksi ilmiah paling bergengsi di negara tersebut.
Kini, terjemahan bahasa Inggris oleh Anton Hur memperkenalkan karya ini kepada pembaca Anglosphere.
Buku ini sukses menembus batas genre dan meraih pengakuan internasional.
Apa rahasia kesuksesannya? Banyak pembaca yang mengaku tidak biasa membaca fiksi ilmiah, tetapi akhirnya terpikat oleh buku ini.
Fiksi ilmiah sering diasosiasikan dengan pesawat luar angkasa, alien, robot, dan pandangan distopia yang dingin.
Namun, Kim Choyeop tidak berfokus pada teori astrofisika atau detail teknis. Ia lebih menekankan dampak teknologi pada individu dan masyarakat.
Cerpen pertama, 'Symbiosis Theory', membayangkan spesies alien yang hidup berdampingan dengan manusia seperti mikroorganisme di usus kita.
Kim mengajukan pertanyaan: Apa yang membuat manusia menjadi manusia? Bagaimana jika sifat-sifat yang kita anggap 'manusia' berasal dari alien yang hidup di dalam diri kita?
Cerita ini sangat relevan di era kecerdasan buatan yang semakin mengambil alih pekerjaan intelektual dan kreatif.
Dalam dunia yang terus berubah, Kim menulis tentang hal-hal yang tetap sama.
Cerita utama, 'If We Cannot Go at the Speed of Light', membawa pembaca ke masa depan di mana perjalanan luar angkasa telah memperluas batas pemukiman manusia.
Namun, kisah seorang nenek yang dengan keras kepala menunggu pesawat luar angkasa yang tidak akan pernah kembali sangat bisa dirasakan oleh siapa pun: perjuangan menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga, kekecewaan ambisi yang pupus, dan kerinduan pada keluarga yang jauh.
Meskipun buku ini diterbitkan tujuh tahun lalu, cerita-ceritanya tetap relevan.
Dalam 'The Materiality of Emotions', sebuah perusahaan misterius menciptakan produk yang bisa membuat orang merasakan emosi tertentu secara instan.
Kim menulis, 'Apakah alasan kita mengonsumsi sesuatu hanya karena kita menginginkan perasaan yang menyertainya? Bukankah manusia pada dasarnya mengejar penciptaan makna?'
Pertanyaan ini mengingatkan pada fenomena toko gacha yang menjamur di Seoul, yang mengandalkan lonjakan dopamin dari antisipasi dan kejutan.
Juga, tren gantungan tas yang digemari anak sekolah dan pekerja dewasa menghubungkan pertanyaan Kim dengan fenomena yang memikat dan membingungkan.
Keunggulan lain dari buku ini adalah tidak ada satu pun dari tujuh cerpen yang membosankan.
Setiap cerita memacu imajinasi dan mengirim pikiran pembaca ke jalur yang belum pernah dijelajahi sebelumnya.
'If We Cannot Go at the Speed of Light' tersedia di dbbooks. co.
kr.