unique visitors counter
⌂ Beranda › Lifestyle › Industri Resor Terpadu Korea Tertekan Saingi Jepang
Lifestyle

Industri Resor Terpadu Korea Tertekan Saingi Jepang

Diskusi meja bundar The Korea Times tentang industri resor terpadu
Diskusi meja bundar The Korea Times tentang industri resor terpadu
A A Ukuran Teks16px

Industri pariwisata dan kasino Korea Selatan menghadapi titik balik kritis. Mereka harus berbenah sebelum Jepang membuka resor terpadu (integrated resort) raksasa di Osaka pada 2030.

Para pakar dan pelaku industri berkumpul dalam diskusi meja bundar yang digelar The Korea Times di Seoul, Kamis (17/6/2026).

Mereka membahas strategi bertahan menghadapi resor Osaka yang diprediksi akan mengalihkan arus wisatawan dan modal dari Korea.

Proyek Osaka: Lebih dari Sekadar Kasino

Kang Sung-sook, profesor di Tezukayama University Jepang, menekankan bahwa pengembangan Osaka bukan sekadar tempat perjudian.

"Resor terpadu Osaka tidak hanya dirancang untuk menarik wisatawan, tetapi juga menjadi pusat inovasi untuk konferensi internasional, pameran, dan kegiatan korporasi," ujarnya dalam diskusi daring.

Proyek ini digarap konsorsium yang dipimpin MGM Resorts International dan Orix, masing-masing memegang sekitar 44 persen saham. Sisanya 12 persen didukung 22 pemegang saham minoritas lokal.

Investasi awal mencapai 1,51 triliun yen (sekitar Rp 157 triliun).

Resor ini ditargetkan beroperasi pada musim gugur 2030 dan menarik sekitar 20 juta pengunjung per tahun, terdiri dari 14 juta wisatawan domestik dan 6 juta mancanegara.

Menurut Kang, keberhasilan proyek Osaka tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga seberapa dalam resor itu hidup berdampingan dan memberi manfaat bagi komunitas lokal.

Pemerintah setempat menghabiskan waktu bertahun-tahun menggelar puluhan kuliah dan seminar untuk membangun konsensus publik.

Desakan Pelaku Industri: Bebaskan Regulasi

Operator kasino lokal di Korea menyatakan rasa krisis yang mendalam. Mereka mendesak pemerintah untuk melonggarkan beban administratif agar bisa meningkatkan daya saing global.

Kim Eom-kwon, pimpinan tim di Grand Korea Leisure (GKL), mengaku khawatir seluruh sektor kasino domestik akan terkena dampak signifikan.

"Kami merasakan krisis yang kuat karena resor Jepang akan menarik banyak wisatawan dari Korea," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya ingin meningkatkan fasilitas tetapi sering menghadapi hambatan administratif yang rumit. "Kami berharap ada lingkungan regulasi yang mendorong pertumbuhan dan inovasi, bukan hanya mengandalkan aturan ketat."

Lee Dae-shin, kepala tim strategi kasino Kangwon Land, menyoroti proses administrasi yang panjang di perusahaan publik.

"Kami harus melalui studi kelayakan pendahuluan yang memakan waktu bertahun-tahun sebelum melakukan investasi baru. Untuk bersaing dengan resor Jepang, kami butuh prosedur yang lebih efisien."

Kim Ho-saeng, pimpinan bagian strategi kasino Kangwon Land, menambahkan bahwa pemerintah perlu melihat lebih jauh dari strategi saat ini.

"Pemerintah fokus pada K-culture untuk menarik 30 juta wisatawan asing per tahun, tetapi memiliki resor terpadu yang kompetitif secara global juga pilar yang sama pentingnya."

Rebranding: Ubah Citra Negatif Kasino

Para ahli sepakat bahwa Korea harus menghilangkan stigma negatif terhadap kasino dan mengubahnya menjadi tempat hiburan ramah keluarga.

Lee Min-jae, direktur dewan Pusat Riset Pariwisata Resor Terpadu, mengatakan masyarakat masih mengasosiasikan kasino dengan perjudian, bukan hiburan komprehensif.

"Kasino lokal sudah berkontribusi signifikan bagi komunitas, tetapi citra publik masih negatif. Kontribusi finansial industri harus dirasakan langsung oleh warga."

Lee Jae-seok, profesor di departemen manajemen pariwisata Universitas Nasional Kangwon, menekankan perlunya transformasi struktural.

"Kita harus mengubah kasino dari tempat perjudian sederhana menjadi destinasi hiburan komprehensif yang membuat pengunjung betah." Ia menjelaskan, akses transportasi dan pengembangan konten nonperjudian adalah langkah krusial.

Kim Jae-kyoung, wakil presiden The Korea Times, menyoroti perlunya perubahan paradigma.

"Ketika orang berpikir tentang Marina Bay Sands di Singapura, mereka membayangkan pusat konvensi dan hiburan canggih, bukan sekadar tempat judi.

Korea butuh upaya rebranding strategis serupa."

Seo Won-suk, presiden Masyarakat Ilmu Pariwisata Korea, menutup diskusi dengan menekankan perubahan standar global. "Jepang fokus pada pertumbuhan kualitatif dan penciptaan nilai, bukan hanya mengejar jumlah pengunjung.

Korea harus mengadopsi kebijakan proaktif untuk membina industri ini dan memastikan kelangsungan sektor pariwisata lokal."

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru