unique visitors counter
⌂ Beranda › News › Apakah Trump Berhasil Mencapai Tujuannya dalam Perang dengan Iran?
News

Apakah Trump Berhasil Mencapai Tujuannya dalam Perang dengan Iran?

Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan rudal Iran
Ilustrasi Presiden AS Donald Trump dan rudal Iran
A A Ukuran Teks16px

WASHINGTON — Tiga bulan setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari, kesepakatan damai awal telah tercapai.

Namun, seberapa jauh Presiden AS Donald Trump berhasil mencapai tujuannya?

Trump sebelumnya menetapkan sejumlah sasaran, mulai dari menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran hingga memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.

Rudal dan Drone

Sebelum perang, Iran memiliki persenjataan rudal balistik terbesar di Timur Tengah, dengan 2.500 hingga 6.000 rudal berbagai jenis.

Beberapa rudal mampu mencapai Israel dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer.

Iran juga merupakan produsen utama drone jarak jauh, termasuk drone Shahed yang digunakan Rusia di Ukraina.

Sekitar satu bulan setelah perang, sumber AS mengatakan sepertiga dari arsenal itu hancur, dan sepertiga lainnya kemungkinan rusak, hancur, atau terkubur.

Laksamana Brad Cooper dari AS mengatakan kepada Kongres pada 14 Mei bahwa kemampuan Iran untuk membangun dan menyimpan rudal serta drone jarak jauh telah mundur bertahun-tahun.

Lebih dari 1.500 rudal dan 6.000 drone telah dicegat oleh AS dan sekutunya.

Meskipun demikian, Iran masih mampu meluncurkan rudal ke Kuwait dan Bahrain pada 6 Juni, serta ke Israel pada 7 Juni.

Serangan itu tidak menimbulkan kerusakan signifikan.

Militer Konvensional

Militer AS mengatakan telah menurunkan kemampuan militer konvensional Iran untuk memproyeksikan kekuatan di kawasan.

Cooper melaporkan bahwa 161 kapal angkatan laut Iran hancur dan 82 persen sistem pertahanan udaranya lumpuh.

Angkatan udara Iran, yang sebelumnya menerbangkan hingga 100 sorti per hari, kini tidak menerbangkan misi sama sekali.

Namun, Iran masih mampu menutup Selat Hormuz selama konflik menggunakan speedboat, ranjau, drone, dan kapal rudal, sehingga menghambat kapal dagang yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Program Nuklir

Trump berulang kali mengatakan tujuan utamanya adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Teheran selalu menyatakan programnya untuk tujuan damai.

Perang tidak mengubah kemampuan nuklir Iran secara signifikan.

Intelijen AS memperkirakan Iran membutuhkan waktu kurang dari setahun untuk memproduksi senjata nuklir, sama seperti sebelum serangan Juni 2025.

Program nuklir Iran akan menjadi isu sentral dalam perundingan setelah kerangka kesepakatan ditandatangani pada Jumat.

Trump menginginkan uranium yang diperkaya Iran dikeluarkan dari negara itu, sementara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei menolaknya.

Proksi Iran

Trump mengatakan pada 2 Maret bahwa Teheran tidak boleh diizinkan terus mempersenjatai dan mendanai kelompok proksi di Irak, Lebanon, Gaza, dan Yaman.

Iran belum menunjukkan kesediaan menghentikan dukungannya, namun jaringan proksinya dinilai jauh kurang efektif. Sebelum perang, Israel telah membunuh banyak pemimpin Hamas dan Hizbullah.

Iran juga kehilangan jalur pasokan penting bagi Hizbullah setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada 2024. Sanksi dan kesulitan ekonomi Iran juga mengurangi kemampuannya mendanai kelompok-kelompok itu.

Kelompok proksi tidak memainkan peran besar dalam perang. Hamas tidak menyerang Israel dari Gaza, sementara Houthi tidak mengganggu pelayaran Laut Merah secara signifikan.

Hizbullah bergabung pada 2 Maret, memicu respons Israel yang menewaskan hampir 3.700 orang dan mengungsikan 1,2 juta jiwa di Lebanon.

Cooper mengatakan pada Mei bahwa Iran tidak lagi mampu memasok senjata canggih ke kelompok-kelompok itu secara andal.

Penggulingan Rezim

Trump mendorong pengunjuk rasa Iran untuk menggulingkan pemimpin mereka sebelum perang. Ia menyebut kematian Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari sebagai "kesempatan terbesar" untuk merebut pemerintahan.

Pada 6 Maret, ia mengatakan perang hanya akan berakhir dengan "MENYERAH TANPA SYARAT" dari Iran dan pemimpin baru yang "dapat diterima."

Meskipun perang gagal menggulingkan pemerintah teokratis Iran, Trump mengklaim tujuannya tercapai karena Khamenei digantikan oleh putranya, Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Trump menyebut kepemimpinan baru itu sebagai "rezim baru yang lebih masuk akal" pada 29 Maret. Dalam beberapa pekan terakhir, ia tidak lagi mengulangi seruannya untuk menjatuhkan pemimpin Iran.

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru