unique visitors counter
⌂ Beranda IPTEK Suara AI Tiru Pejabat, Komdigi Peringatkan Modus Scam Baru Rugikan Masyarakat Rp7,5 Triliun

Suara AI Tiru Pejabat, Komdigi Peringatkan Modus Scam Baru Rugikan Masyarakat Rp7,5 Triliun

Suara AI Tiru Pejabat, Komdigi Peringatkan Modus Scam Baru Rugikan Masyarakat Rp7,5 Triliun
Ilustrasi: Suara AI Tiru Pejabat, Komdigi Peringatkan Modus Scam Baru Rugikan Masyarakat Rp7,5 Triliun
A A Ukuran Teks16px

Pelaku kejahatan siber di Indonesia kini menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meniru suara pejabat demi mengelabui korban.

Modus ini disebut voice scam dan semakin sulit dikenali.

>>> Casio Luncurkan Jam Tangan Pro Trek PRJ-01 dengan Dial Analog, Pengisian Tenaga Surya, dan Klip Karabiner

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Nezar Patria, mengungkapkan kerugian akibat spam dan scam di Indonesia telah mencapai Rp7,5 triliun.

Angka tersebut berdasarkan laporan Global Anti-Scam Alliance.

"Angka scam naik terus.

in2

Kemarin total kerugian akibat spam dan scam mencapai Rp7,5 triliun," ujar Nezar dalam keterangan resminya, Kamis (2/7/2026).

Voice Scam Makin Canggih dengan AI

Nezar menjelaskan, perkembangan AI membuat modus penipuan digital semakin sulit dikenali.

Salah satu yang paling berbahaya adalah voice scam, yaitu penipuan melalui panggilan telepon dengan suara yang telah dimanipulasi.

"Sekarang makin canggih karena bisa meniru suara orang bahkan meniru suara-suara pejabat pakai AI. Dia ketik teksnya, terus tinggal diputar ulang," jelasnya.

>>> Sony Hentikan Produksi Cakram Fisik PlayStation pada 2028

Ia menilai kelompok lanjut usia menjadi salah satu pihak yang paling rentan menjadi korban. Mereka umumnya belum terbiasa mengenali pola penipuan digital berbasis AI yang terus berkembang.

Komdigi Dorong Operator Terapkan Teknologi Anti-Scam

Merespons ancaman tersebut, pemerintah meminta seluruh perusahaan telekomunikasi memperkuat perlindungan pelanggan dengan mengadopsi teknologi anti-scam.

Langkah ini diharapkan menekan penyebaran penipuan melalui panggilan telepon, SMS, maupun layanan digital lainnya.

"Pemerintah mendorong agar seluruh perusahaan telekomunikasi melindungi para konsumen dengan mengimplementasikan fitur anti-scam, baik dalam bentuk aplikasi atau bentuk lain," kata Nezar.

Menurutnya, implementasi teknologi tersebut tidak harus seragam. Setiap operator dapat menentukan pendekatan yang paling sesuai dengan karakteristik layanan dan model bisnis masing-masing.

Nezar menambahkan, perusahaan telekomunikasi memiliki keleluasaan untuk melakukan asesmen mandiri sebelum menerapkan sistem perlindungan yang dinilai paling efektif.

Kolaborasi Industri Jadi Kunci

Kolaborasi dengan perusahaan teknologi, operator telekomunikasi, hingga penyedia solusi keamanan siber menjadi faktor penting menghadapi modus kejahatan digital yang semakin kompleks.

>>> Colorful Luncurkan RP600X Pro, SSD Portabel dengan Kecepatan Baca 1000MB/s

Dengan dukungan sistem anti-scam yang lebih canggih, pemerintah berharap masyarakat memperoleh perlindungan lebih baik dari berbagai bentuk penipuan digital, termasuk yang memanfaatkan AI untuk memalsukan identitas maupun suara.

E
Tim Redaksi
Penulis: Eko Yulianto
📰 Update Terbaru