Minions & Monsters kembali mengandalkan tingkah bodoh para Minion untuk mengundang tawa. Film ketiga dalam saga prekuel Despicable Me ini membawa penonton ke era keemasan Hollywood.
Disutradarai Pierre Coffin dan Patrick Delage, film ini ditulis oleh Coffin dan Brian Lynch.
>>> Besok, NIKI Tampil di Day 2 Prambanan Jazz 2026
Durasi 90 menit diisi dengan petualangan cepat tanpa memberi ruang bagi penonton untuk mencerna drama.
Sinopsis dan Alur Cepat
Kisah berpusat pada pencarian monster yang berujung kekacauan. Formula yang sama dengan saga Minions sebelumnya membuat cerita tidak berbobot, hanya mengandalkan aksi konyol.
Pace yang terburu-buru membuat karakter seperti Minion Ed dan villain Goomi kurang berkembang. Padahal, Ed berkontribusi besar dalam film ini.
Kelebihan dan Kekurangan
Visual dari Illumination tetap memukau, bersaing dengan Pixar. Desain monster unik dan penuh warna, serta animasi ekspresif menjadi nilai tambah.
>>> Sinopsis Archives: The Nanyang Mystery, Drama Misteri Zhang Xincheng dan Ding Yuxi
Musik karya John Powell sukses menghadirkan nuansa Hollywood klasik 1920-an. Aransemen orkestra dipadukan dengan melodi komedi khas Minion.
Namun, cerita terasa dangkal. Teknologi alien canggih di latar 1920-an terasa janggal.
Karakter jahat Goomi hanya dijelaskan lewat dua baris dialog.
Pierre Coffin masih menyelipkan kosakata Indonesia seperti 'terima kasih' dan 'sate ayam'. Ini menjadi ciri khas yang menghibur.
>>> Stray Kids' Seungmin Kurangi Aktivitas karena Cedera Pergelangan Kaki
Minions & Monsters lebih konsisten mengundang tawa dibanding Despicable Me 4. Namun, Illumination perlu mengeksplorasi kedalaman cerita agar penonton mendapat kesan lebih.

