Saat itu, R. M.
Margono Djojohadikusumo menggagas berdirinya bank milik bangsa sendiri sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Gagasan tersebut kemudian menjadi tonggak lahirnya BNI sebagai bank pertama milik Republik Indonesia.
"BNI lahir dari semangat perjuangan dan keyakinan bahwa bangsa ini membutuhkan bank sendiri.
Sejak awal, BNI bukan hanya hadir untuk menjalankan fungsi perbankan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyusun harga diri ekonomi Indonesia," kata Putrama.
Sebagai bank pertama milik negara, BNI memiliki peran historis dalam perjalanan ekonomi Indonesia.
Salah satu kontribusi penting perusahaan adalah keterlibatannya dalam penerbitan Oeang Republik Indonesia atau ORI sebagai simbol kedaulatan ekonomi bangsa pada masa awal kemerdekaan.
Semangat pengabdian tersebut terus dipertahankan hingga kini melalui berbagai strategi bisnis, inovasi layanan, serta budaya kerja yang berorientasi pada pelayanan kepada masyarakat.
>>> Transaksi Harian Bursa Saham Indonesia Anjlok 35,9%
Nilai tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam desain logo HUT ke-80 yang tidak hanya menampilkan angka usia perusahaan, tetapi juga mengandung filosofi mengenai perjalanan panjang dan komitmen pelayanan yang berkelanjutan.
Angka delapan menjadi elemen utama dalam logo karena memiliki kemiripan dengan simbol tak terhingga atau infinity ketika diposisikan secara horizontal.
Bentuk tersebut melambangkan pelayanan yang terus bergerak tanpa henti dan tidak mengenal batas.
Sementara angka nol melambangkan keutuhan serta kesinambungan.
Filosofi ini mencerminkan komitmen BNI untuk selalu membuka ruang pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat di berbagai generasi.
Perpaduan kedua angka tersebut menggambarkan usia 80 tahun sebagai tonggak penting perjalanan perusahaan sekaligus awal dari komitmen baru untuk terus memperluas pelayanan kepada masyarakat Indonesia.
Makna pengabdian juga diperkuat melalui elemen visual berbentuk jalur yang mengalir secara dinamis.
