Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan pekan lalu. Penguatan tersebut didorong oleh pelemahan dolar AS secara global.
Rupiah menguat 0,22% ke posisi Rp17.954 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah bank sentral AS (The Fed) memberikan sinyal dovish.
>>> Kopi Pagi: Jangan Ingkari Janji Konstitusi
Indeks dolar AS terhadap mata uang utama melemah 0,13% ke level 100,72. Pelemahan ini turut mendorong penguatan hampir semua mata uang Asia.
Won Korea Selatan dan baht Thailand mencatat penguatan paling tajam. Disusul ringgit Malaysia, rupiah, peso Filipina, dolar Singapura, yen Jepang, dan rupee India.
Sementara itu, yuan offshore dan yuan China menguat terbatas. Sebaliknya, dolar Taiwan dan dolar Hong Kong justru melemah tipis.
>>> Situasi Selat Hormuz Terkini: Kapal Pengangkut Migas Mulai Melintas Lagi
Sentimen dovish The Fed pada Jumat (3/7/2026) menjadi katalis utama penguatan mata uang Asia.
Pelaku pasar kembali meningkatkan ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
>>> Babak 16 Besar Jadi Akhir untuk Brasil di Piala Dunia 2026
Meski demikian, penguatan rupiah kali ini belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan fundamental domestik. Pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu pelemahan dolar AS.

